FILOSOFI MACHIAVELLI Dan KARL MARX

FILOSOFI MACHIAVELLI Dan KARL MARX

A.      Pemikiran-Pemikiran Niccolo Machiavelli

Pemikiran Machiavelli tidak bisa terlepas dari kondisi Italia semasa hidupnya. Kondisi itulah yang menjadi dasar-dasar refleksi yang kemudian menentukan pandangan-pandangan Machiavelli tentang suatu negara, kekuasaan dan penguasa. Italia saat itu adalah negara yang terpecah-pecah akibat adanya gereja-gereja sebagai dominion atau pusat pemerintahan masing-masing wilayah. Italia terbagi menjadi lima dominion yaitu Naples, Venezia, Roma (Vatikan), Florence dan Milan. Perpecahan kekuasaan ini dinilai Machiavelli sebagai faktor yang melemahkan Italia secara keseluruhan di hadapan musuh-musuh di sekitarnya seperti Perancis dan Spanyol yang mana masing-masing dari keduanya lebih dulu menjadi negara kesatuan. Kesatuan suatu negara adalah hal mutlak yang harus diwujudkan menurut Machiavelli, karena kekuatan negara terletak pada tangan penguasa yang menguasai negara secara keseluruhan. Di tangan penguasalah nasib negara ditentukan. Hakikat nilai yang harus selalu dijunjung tinggi oleh penguasa dalam kehidupan ini adalah negara (kekuasaan).

Oleh karena itu, Machiavelli beranggapan bahwa untuk menjunjung tinggi sebuah simbol negara, maka diperlukan cara-cara yang tidak boleh dikaitkan dengan asas nilai atau moral. Menurutnya, penguasa berhak melakukan apapun, baik atau buruk, cara halus atau cara kasar, untuk mempertahankan kekuasaannya dari segala ancaman yang akan mereduksi legitimasinya yang itu dikhawatirkan oleh Machiavelli akan menimbulkan disintegrasi nasional. Nilai-nilai keagamaan, moralitas adalah hal yang harus dipisahkan dari unsur-unsur politik kenegaraan. Agama hanyalah sebagai penopang, atau kendaraan yang mampu digunakan seperlunya, selama itu mendukung pada kepentingan penguasa dalam berkuasa.

Analogi penguasa ideal yang menarik dari pemikir asal Florence ini adalah Singa dan kancil. Singa adalah simbol kebuasan dan kekejaman untuk mempertahankan kekuasaan. Sedangkan kancil adalah simbol keramahan dan kemurahan hati untuk menarik simpati. Penguasa diharuskan untuk pintar menempatkan posisinya kapan dia harus menjadi singa dan kapan dia harus menjadi seekor kancil. Penguasa harus bisa mencegah ancaman, baik internal maupun eksternal yang akan merusak kesatuan dan keutuhan negara sekalipun dengan cara-cara yang kejam seperti pembunuhan, pembantaian dan lain-lain. Akan tetapi, di saat aman, penguasa juga tidak boleh lupa untuk menarik simpati rakyatnya sebagai sumber legitimasi baginya dengan berbaik hati dan memenuhi keinginan-keinginan rakytanya. Dengan demikian, maka suatu negara itu akan utuh dan solid.

Masalah keamanan nasional, Machiavelli juga berpendapat bahwa kekuatan nasional tidak boleh digantungkan kepada kekuatan pihak lain. Garda bangsa haruslah terdiri dari warga negara itu sendiri, tidak dari warga negara lain yang hanya bekerja sebagai tentara bayaran. Tentara bayaran hanya bekerja sesuai dengan kontrak kerja yang disepakati, tidak ada loyalitas yang murni terhadap seorang penguasa. Maka, negara yang menggantungkan kekuatannya dari tentara bayaran dianggap masih lemah dan akan hancur karena dirinya sendiri sebab terlalu banyaknya alokasi dana yang digunakan dan tidak adanya loyalitas.

Pemikiran Machiavelli di atas memberikan suatu pandangan baru tentang cara hidup berpolitik yang sebelumnya hanyalah dikuasai oleh pandangan-pandangan yang mengaitkan etika dengan politik, agama dengan politik. Hal ini dikarenakan pemikiran Machiavelli berdasarkan pada analisa historis dan praktis, sesuai dengan kenyataan yang ia alami dan amati. Karena kedekatannya dengan alam nyata (real world) tentang politik dan manusia, pemikirannya banyak dianut oleh pemimpin-pemimpin besar dunia seperti Mussolini, Napoleon Bonaparte, Stalin, Lenin, Hitler. Resep yang praktis dan tidak terlalu teoritis dalam mencari dan mempertahankan kekuasaan adalah hal yang mudah untuk diimplementasikan. Inilah yang menjadi keunggulan dari pemikiran seorang Machiavelli.

Kendati demikian, pandangan miring pun tak terelakkan oleh Machiavelli. Sebagai Galileo of politics, ia pun mendapat banyak kecaman dari kalangan masyarakat pada umumnya yang saat itu masih banyak terpengaruhi oleh doktrin gereja. Cara pandang Machiavelli dianggap sangat amoral, tidak menghargai nilai-nilai agama, dan hanya sebagai usaha untuk membenarkan (justifikasi) perilaku kekerasan dalam politik (political violence). Kekuasaan absolut dipandang sebagai bentuk justifikasi bagi setiap perbuatan seorang penguasa. Justifikasi inipun mendapat kecaman dan tantangan dari pemikir-pemikir lain. Apabila Machiavelli beranggapan bahwa manusia itu adalah manusia di satu sisi, dan binatang di sisi yang lain, maka anggapan ini pula yang melemahkan justifikasi politik ala Machiavelli. Bukankah kekuasaan yang tidak terbatas (ultimate) akan membawa manusia pada kecerobohan dan keserakahan. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Acton bahwa power tends to corrupt.

 B.       Kontribusi Karl Marx

    1. Determinasi Ekonomi

Determinasi ekonomi adalah dimana hal-hal yang bersifat mendasar (basis) seperti bentuk modal, alat-alat produksi, dan kekuatan-kekuatan modal lainnya yang mempengaruhi sejarah, bukan kehidupan sosial seperti agama, politik, filsafat, seni, bahkan negara (suprastruktur) lah yang mempengaruhi dan membuat sejarah.

Ide determinasi ekonomi timbul pada fase Marx tua, diawali dengan The German Ideology, yaitu saat Marx berubah menjadi seorang yang anti-humanis dan bersandar pada rasionalitas demi menunjukan keilmiahannya. Ia menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah yaitu ekonomi. Ekonomi adalah hal yang mendasar bagi pandangan sejarah materialistiknya. Dan inilah yang menjadikannya sebagai pemikir sosialisme ilmiah, sosialisme yang tidak berdasarkan harapan atau keinginan khayalan belaka, semuanya serba benda dan berdasarkan kepada analisis ilmiah terhadap perkembangan kehidupan hukum masyarakat. Ia merumuskan bidang ekonomi menentukan aspek politik dan pemikiran manusia.

Teori perkembangan masyarakat dipengaruhi perkembangan ekonomi dari Marx ini mengharuskannya untuk membuktikan teori tersebut dengan memperlihatkan bahwa ekonomi kapitalis akan segera menuju kehancurannya secara ilmiah. Pada akhirnya Marx masih merasa sulit membuktikan teori ini, ia menjadi fokus pada pendekatan ekonomi terhadap kajiannya yaitu civil society dan menciptakan teori-teori baru. Hal lainnya yang mendasari pemikiran determinasi ekonominya adalah pendapatnya mengenai keterasingan. Manusia selalu hidup dalam keterasingan dan terasing dari hidupnya sendiri. Entah apa maksudnya, tapi keterasingan tersebut muncul karena faktor kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang nantinya akan menimbulkan konflik dari diri sendiri untuk melindungi usahanya dan bersaing dalam industrialisasi. Hak milik tersebut juga membuat para golongan pemilik alat tersebut untuk hidup dari “penghisapan” para golongan pekerja yang mana struktur ekonomi itu dicerminkan didalam struktur kekuasaan dibidang sosial dan ideologi. Memang terlihat pada akhirnya jika sejarah itu paling ditentukan oleh struktur dari masyarakat dan perkembangan kelas-kelas sosial yang terdapat didalamnya dimana kelas-kelas ini tercipta atas motivasi alamiah dari manusia untuk memperbaiki keadaan hidupnya dengan membuat kemampuan individu masing-masing semakin spesifik dan adanya pembagian kerja. Intinya, siapapun ia yang memiliki kekuatan ekonomi, ia akan secara mudah mendapatkan akses pada negara, bahkan menguasai, sehingga kekuasan negara cenderung sering mendukung kaum pemegang kekuatan ekonomi ini untuk kepentingan mereka. Begitu pula dengan tatanan agama atau nilai yang berperan untuk memberikan legitimasi pada kekuasaan golongan-golongan tersebut. Struktur kekuasaan politis  maupun spiritual dalam masyarakat mencerminkan struktur kekuasaan golongan atas kepada golongan pekerja/bawah dalam hal ekonomi.

Alasan logis lainnya yang dituangkan Marx adalah seperti ini, manusia sebagai manusia tentunya butuh dan harus makan dan minum, berpakaian, tempat tinggal, istirahat dan lainnya sebelum manusia melakukan kegiatan sosial, politik, menimba ilmu, agama, urusam kenegaraan, dan lain seterusnya. Jadi bahwa produksi nafkah hidup material bersifat langsung dan dengan demikian tingkat perkembangan ekonomis sebuah masyarakat atau zaman masing-masing menjadi dasar dari bentuk-bentuk kenegaraan, pandangan hukum, seni, dan religiusnya masyarakat. Saya kira ini sudah masuk dalam tahapan dimana ekonomi mendeterminasi ke arah pembentukan kebudayaan, bukan lagi sejarah saja karena mencangkup aspek-aspek pembangun kehidupan. Marx memang tidak mengklaim bahwa hanya faktor ekonomi sajalah yang menciptakan sejarah, ia hanya menyatakan bahwa faktor ini adalah yang terpenting sebagai dasar dan landasan untuk membangun sebuah suprastruktur kebudayaan, perundang-undangan, dan pemerintahan yang diperoleh pula oleh berbagai ideologi politik, sosial, keagamaan, dan hal lainnya yang sejalan berdampingan. The German Ideology juga tidak menyebutkan bahwa interpretasi mereka (Marx dan Engels) mengenai sejarah adalah satu-satunya yang dapat merepresentasikan dari sejarah tersebut.

 2. Materialisme Sejarah

Istilah “materialisme” di sini berarti bahwa kegiatan dasar manusia adalah kerja sosial, bukan pikirannya. Di sini dia menerima pengandaian Feuerbach bahwa kenyataan akhir adalah objek indrawi, tetapi objek indrawi harus dipahami sebagai kerja atau produksi. Istilah “sejarah” mengacu pada Hegel yang pengandaian-pengandaiannya tentang sejarah sebagai proses dialektis diterima oleh Marx. Hanya saja kata sejarah dalam filsafat Marx sudah memiliki pengertian lain. Sejarah bukan menyangkut perwujudan diri Roh, melainkan perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan dirinya mencapai kebebasan. Tesis dan antitesis bukan menyangkut Roh subjektif dan Roh objektif, melainkan menyangkut kontradiksi-kontradiksi di dalam hidup bermasyarakat, khususnya dalam kegiatan ekonomi dan produksi. Sintesis akan dicapai dalam bentuk penghapusan alienasi, yakni manakala hak milik dihapus dan masyarakat tanpa kelas (klassenlose Gesellschaft) ditegakkan.

Pandangan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Berdasarkan asas materialistis, Marx mengandaikan bahwa kesadaran tidak menentukan realitas, melainkan sebaliknya, realitas material menentukan kesadaran. Realitas material itu adalah cara-cara produksi barang-barang material dalam kegiatan kerja. Perbedaan cara produksi niscaya menghasilkan perbedaan kesadaran. Dengan demikian, kalau masyarakat dibayangkan sebagai sebuah bangunan, kegiatan ekonomi itu menjadi Unterbau (basis atau bangunan bawah) dan pikiran atau kesadaran orang-orang didalamnya itu hanyalah Uberbau (bangunan atas atau superstruktur). Kalau sistem ekonomi berubah, niscaya kesadaran juga berubah. Yang tercakup dalam basis itu adalah kekuatan-kekuatan produktif (alat-alat kerja, pekerja, pengalaman atau teknologi) dan hubungan-hubungan produksi (antara pekerja dan pemilik modal). Yang tercakup dalam superstruktur itu adalah hukum, politik, dan bentuk-bentuk kesadaran sosial lain, seperti: filsafat, historiografi, seni, agama, dan seterusnya. Di dalam basis itu terjadi “kontradiksi”: di satu pihak kekuatan-kekuatan produktif itu berkembang progesif, namun di lain pihak hubungan-hubungan produksi yang tak lain adalah hubungan-hubungan hak milik dan kekuasaan cenderung konservatif. Kontradiksi itu lama kelamaan sulit diatasi, sehingga meletuslah revolusi. Sesudah revolusi basis berubah dan suprastruktur juga berubah. Demikianlah Marx memahami bahwa sejarah berlangsung melalui “loncatan-loncatan dialektis”. Di sini kita perlu memperhatikan bahwa Marx sejak semula bermaksud membuat analisis objektif tentang proses perubahan sosial. Kontradiksi yang terjadi dalam masyarakat adalah sebuah kenyataan objektif yang tidak tergantung pada individu-individu. Jadi bukan karena pemilik modal kurang cakap atau kurang bijak, lalu pekerjanya membencinya, melainkan karena kedudukan kedua pihak tidak sama dalam proses produksi. Dia menyebut kedudukan objektif itu sebagai “kelas”, dan dalam Manifest der kommunistischen Partei, dia masih memberi tempat pada peranan manusia sebagai agen perubahan sejarah. Kalimatnya yang termasyhur: “Sejarah semua masyarakat sampai hari ini adalah sejarah perjuangan kelas”. Artinya, perjuangan kelas (Klassenkampf) antara kelas pemodal dan kelas pekerjalah yang memperhebat kontradiksi yang meletuskan revolusi itu. Di sini Marx masih menaruh harapan akan munculnya “perjuangan kelas” yang mengubah masyarakat.

3. Dialektika Materialisme

Asal usul kata dialektika ini dijumpai dalam tulisan yakhot (1995: 11), yang artinya:

(Dialektika berasal dari kata yunani ‘dialego’ yang artinya pembalikan, perbantahan. Di dalam pengertian lama, dialektika bermakna sebagai seni pencapaian kebenaran melalui cara pertentangan dalam perdebatannya dari satu pertentangan berikutnya. Selanjutnya dialektika dipergunakan untuk suatu metode dalam memahami kenyataan.)

Materialisme dialektis bertitik tolak dari materi sebagai satu-satunya kenyataan. Karl Marx mengartikan Dialektika Materialisme sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus. Dari proses itu kemudian timbul kesadaran melalui proses pertentangan. Materi yang dimaksud menjadi sumber keberadaan benda-benda alamiah, senantiasa bergerak dan berubah tanpa henti-hentinya. Dalam pergerakan dan perubahan itu terjadi perkembangan menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi. Tidak melalui proses yang lamban (evolutif) melainkan secara dialektis yaitu melalui pertentangan-pertentangan yang pada hakikatnya sudah mengandung benih perkembangan itu sendiri.

Dua gagasan pokok yang diambil oleh Karl Marx dari Hegel, yaitu terjadinya pertentangan-pertentangan antara segi-segi yang berlawanan dan gagasan bahwa segala sesuatu berkembang terus. Sebagaimana diketahui Hegel dan kaum idealisme lainnya, memiliki suatu pemahaman bahwa alam merupakan hasil ruh (absolut), sehingga dialektika yang muncul adalah dialektika idea. Artinya, dialektika dengan demikian hanya terjadi dan dapat diterapkan dalam dunia abstrak, yaitu ide atau pikiran manusia.

Prinsip dialektika Hegel dan kaum idealis ini ditolak oleh Marx. Bagi Marx, segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil materi, sehingga dialektika yang dia kembangkan adalah dialektika materi. Bahwa dialektika terjadinya di dunia nyata bukan di dunia materi sebagaimana yang dikemukakan Hegel. Karena itulah, filsafat Karl Marx disebut dengan ‘materialisme dialektik’. Proses dialektika adalah suatu contoh yang ada di dalam dunia. Dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawahkan oleh ahli sejarah dan sains.

Di lain hal Karl Marx juga mengemukakan:

“metode dialektika saya sendiri bukan saja berbeda dari metode dialek-tika Hegel, tetapi lawan langsung darinya. Bagi Hegel, proses berpikir itu adalah pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanya manifestasi lahir dari “ide”. Bagi saya sebaliknya dari itu, yang berupa dalam cita (the ideal) tidak lain dari dunia nyata (material world) yang direfleksikan oleh pikiran manusia dan dipindahkan menjadi buah pikiran”(Firdaus Syam, 2007: 169).

Penyebutan filsafat Marx dengan materialisme dialektis dengan demikian terletak pada asumsi dasar yang mengatakan bahwa benda merupakan sesuatu kenyataan pokok yang selalu terjadi dalam proses perubahan dan pertentangan di dalamnya. Perubahan dan pertentangan tersebut terjadi dalam dunia nyata yang dapat diamati indra. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa materialisme dialektis selalu betitik tolak dari materi sebagai satu-satunya kenyataan. Karl Marx mengartikan  materialisme dialektik sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus-menerus. Dari proses perubahan tersebut memunculkan suatu keadaan akibat adanya pertentangan-pertentangan. Materi yang dimaksud menjadi sumber keberadaan benda-benda alamiah tersebut, sehingga senantiasa bergerak dan berubah tanpa henti-hentinya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Andi Muawiyah Ramly. 2004. Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis). Yogyakarta: Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta
  2. F. Budi Hardian. 2011. Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli Sampai Nietzsche). Tangerang: Erlangga
  3. http://politik.kompasiana.com/2011/09/24/analisa-pemikiran-niccolo-machiavelli-395943.html  di unduh 20 Mei 2013 pukul 12:04 WIB
  4. http://thepublicadministration.blogspot.com/2012/11/pemikiran-pemikiran-niccolo-machiavelli.html  di unduh tanggal 20 Mei 2013 pukul 12:02 WIB
  5. http://kuliahjingga.blogspot.com/2012/08/determinisme-ekonomi-marx.html  di unduh tanggal 18 Mei 2013 pukul 05:47 WIB
  6. http://fajrulislam.wordpress.com/2010/11/14/pemikiran-karl-marx-tentang-materialisme-dan-agama/  di unduh tanggal 18 Mei 2013 pukul 05:53 WIB
  7. http://fandi-sos.blogspot.com/2011/12/dialektika-karl-max.html di unduh tanggal 22 Mei 2013 pukul 21:30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s