PERBANDINGAN PEMIKIRAN MACHIAVELLI, THOMAS AQUINAS, dan JOHANNES CALVIN

PERBANDINGAN PEMIKIRAN MACHIAVELLI, THOMAS AQUINAS, dan JOHANNES CALVIN

A.      Niccolo Maciavelli

Machiavelli menegaskan bahwa negara jangan sampai dikuasai agama. Sebaliknya, menurutnya, negara harus mendominasi agama, seperti yang berlangsung di dalam kekaisaran Romawi kuno, saat agama Kristen diatur negara. Dengan pendapat ini, dia tidak ingin mengatakan bahwa agama tidak penting. Dia memang menganggap ajaran-ajaran moral dan dogma-dogma agama pada dirinya tidak begitu penting, tetapi semua yang ada dalam agama, termasuk yang kurang penting itu, ternyata memiliki fungsi untuk mempersatukan negara. Jadi, bagi Machiavelli, agama punya segi pragmatis untuk mengintegrasikan negara. Agama, karena itu, juga dapat mendukung patriotisme dan memperkuat pranata-pranata kebudayaan. Dengan gagasan yang sangat pragmatis tentang agama ini, Machiavelli tidak menyatakan dirinya sebagai ateis. Yang dipersoalkannya bukanlah ada tidaknya Tuhan, melainkan fungsi agama dalam kehidupan politis. Akan tetapi dengan gagasannya itu, dia sebetulnya berhasil memperlihatkan bahwa agama tidak sekeramat yang disangka orang. Agama hanyalah salah satu pranata dalam kehidupan bermasyarakat yang bisa difungsikan. Dalam hal ini, gagasannya mengenai agama bersifat sekuler.

Penguasa, yaitu pimpinan negara haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala. Jadi jelaslah bahwa raja atau pimpinan negara harus memiliki sifat-sifat cerdik pandai dan licin seibarat seekor kancil, akan tetapi harus pula memiliki sifat-sifat yang kejam dan tangan besi seibarat singa.

Pimpinan negara boleh berbuat apa saja asalkan tujuan bisa tercapai maka dengan demikian terjadilah het doel heilight de middeled (tujuan itu menghalalkan / membenarkan semua cara atau usaha). Maka ajarannya disebut ajaran negara harus diutamakan dan apabila perlu negara dapat menindak kepentingan individu.

B.       Johannes Calvin

Dalam teologi Calvin hubungan gereja dan negara sangat erat dan dapat disimpulkan bahwa kedua lembaga ini saling berdampingan, sama-sama bertugas melaksanakan kehendak Allah dan mempertahankan kehormatannya. Namun bukan dalam arti Negara boleh saja mengambil alih semua apa yang menjadi bagian gereja, dan juga sebaliknya.

Hal ini disebabkan oleh karena Calvin yang mencita-citakan suatu pemerintahan yang teokrasi. Sehingga dalam mewujud nyatakan cita-cita teokrasi tidak cukup kalau hanya melalui pemberitaan firman yang dilakukan oleh Gereja, tetapi seluruh kehidupan, baik hidup perorangan, maupun hidup masyarakat, harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Dan dalam hal inilah pun pemerintah mempunyai tugas untuk mendukung gereja. Ini disebabkan karena Johannes Calvin memiliki pandangan positif kepada Negara. Ia menolak gereja sebagai subordinasi (di bawah) Negara, atau dengan subordinasi gereja, tetapi iuxtaposisi (kesetaraan yang berdampingan) dan kooperatif (mitra kerjasama).

Gereja sementara terpisah dengan negara. Bukan berarti tidak ada relasi kerja sama. Gereja terpanggil untuk menyuarakan suara kenabian di tengah dunia. Gereja dapat dengan terbuka melakukan kerja sama dengan pemerintah untuk kegiatan-kegiatan kemanusian, kebenaran dan keadilan. Gereja juga perlu sadar dan kritik terhadap setiap kebajikan pemerintah yang menimpang terhadap rakyat. Disinilah peranan gereja untuk memerangi pemerintahan kepada jalan yang adil dan benar.

C.      Thomas Aquinas

Thomas mengatakan bahwa hukum alam tidak lain adalah merupakan partisipasi makhluk rasional dalam hukum abadi (eternal law). Manusia merupakan makhluk rasional, sebab ia berbeda dengan makhluk lainnya, perbedaan itu dengan diberikan kelebihan berupa akal budi, pikiran intelegensia, dan instink. Unsur itu tentu memiliki hubungan dengan hukum kodrat (natural law), yakni adanya ketergantungan yang positif agar terjadi keharmonisan, artinya arah awal tindakan manusia dan tujuan akhirnya, sebagaimana dijelaskan dalam bukunya Summa Theologica :

“Setiap akal dan kehendak dalam diri kita, berdasarkan sesuatu yang sejalan dengan alam……..dan harus sesuai dengan kebajikan hukum alam.”

Adapun hukum dasar bagi semua hukum baginya adalah Eternal Law, yaitu kebijaksanaan dan akal budi abadi Tuhan, sebagai hukum yang sebenarnya (true law) yang kebenarannya absolut, tidak lagi ada yang harus di ragukan.

Ia pun juga telah mengajarkan bahwa masyarakat dapat bersifat kritis terhadap negara, dengan dikenalnya istilah pembangkangan sipil (civil disobedience) apabila penguasa bertindak tidak sesuai dengan hukum abadi Tuhan atau hukum kodrat. Karena penguasa dan negara memiliki hukum yang berdasarkan prinsip-prinsip hukum kodrat dan tidak boleh bertentangan dengan hukum abadi Tuhan.

D.      Kesimpulan

Perbedaan pemikiran antara ketiga filsuf ini terletak pada kedudukan Negara dengan Agama. Machiavelli lebih mengutamakan kepentingan Negara di atas kepentingan Agama dan memperbolehkan setiap pemimpin dapat bertindak apapun demi majunya Negaranya tanpa memperhatikan pertimbangan moral. Sedangkan Johannes Calvin lebih condong kepada kesataraan kepentingan antara Agama dan Negara. Agama dan Negara berjalan bersamaan dalam memajukan Agama dan Negara. Berbeda lagi dengan pemikiran Thomas Aquinas yang mendahulukan Agama di atas kepentingan Negara, menyatakan Hukum Agama sebagai Hukum yang sebenarnya.

E.       DAFTAR PUSTAKA

Firdaus Syam. 2010. Pemikiran Politik Barat, Sejarah, Filsafat, Ideologi Dan Pengaruhnya Terhadap Dunia ke 3. Jakarta: Bumi Aksara

http://meidyafarahdiba.wordpress.com/2009/12/02/pemikiran-thomas-aquinas-terhadap-perkembangan-pemikiran-politik-barat/  di unduh tanggal 24  Mei 2013 pukul 10:09 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s