GURU PROFESIONAL: UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

 1. Latar Belakang

Kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu aspek penting dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Hal ini karena sumber daya manusia merupakan tenaga utama bagi segala upaya pendidikan dan pembelajaran anak bangsa. Sumber daya manusia adalah para pelaku kehidupan yang secara intens melaksanakan berbagai kegiatan hidup dengan mengedepankan potensi atau kemampuan yang ada di dalam dirinya. Kemampuan ini bukan ada begitu saja, melainkan didapatkan dari proses panjang sebuah pendidikan dan pembelajaran. Dengan proses inilah, kita dapat memperoleh sosok-sosok yang kompeten dalam bidangnya dan selanjutnya hal tersebut mengubah kondisi masyarakat secara umum. Kehidupan ini dapat menjadi lebih baik jika masyarakatnya atau sumber daya manusianya berkualitas.

Untuk menciptakan kondisi sebagaimana yang kita harapkan tersebut, dunia pendidikan mendapat tugas dan kewajiban untukmelakukan proses pendidikan dan pembelajaran untuk sumber daya manusia yang ada, khususnya anak-anak usia belajar. Anak-anak usia belajar atau usia sekolah inilah yang selanjutnya diharapkan dapat menjadi sosok-sosok yang kompeten di bidangnya. Anak-anak usia sekolah ini dididik dan diajari berbagai pengetahuan dan nilai-nilai positif yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan dan pengajaran ini merupakan tugas dan kewajiban mulai bagi insan-insan yang peduli terhadap kualitas anak bangsa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, berbagai langkah dilakukan oleh dunia pendidikan, terutama terkait dengan sumber daya manusia yang menangani langsung kegiatan pendidikan dan pembelajaran, yaitu guru.

Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah mencanangkan berbagai program yang bertujuan untuk memberikan kesempatan guru dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas dirinya. Bahkan, untuk mendukung kebutuhan dana pendidikan, pemerintah mengalokasikan dana anggaran belajar sebesar 20%, baik APBN maupun APBD. Pengalokasian dana anggaran belajar ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat bagus bagi dunia pendidikan.

Berbagai program yang telah dicanangkan tersebut setidaknya merupakan langkah konkret yang dicanangkan pemerintah dalam upaya mengangkat kualitas pendidikan kita, yang dianggap masih belum mampu mengangkat atau menunjukkan perubahan yang signifikan,khususnya perubahan yang membaik. Selama ini, ditengarai bahwa statisnya kualitas hasil dan proses pendidikan adalah karena kualitas guru yang belum sesuai dengan tuntutan profesi. Para guru masih dianggap belum mempunyai kemampuan yang layak untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran sehingga perlu secara berkesinambungan dilakukan peningkatan.

2. Rumusan Masalah

1. Apa pentingnya kesesuaian latar pendidikan guru?

2. Bagaimana kompetensi guru?

3. Bagaimana upaya untuk meningkatkan kompetensi guru?

4. Bagaimana sikap profesionalitas guru?

 3. Tujuan

1. Untukmengetahuipentingnya kesesuaian latar pendidikan guru

2. Untukmengetahuikompetensi guru

3. Untukmengetahuiupayauntukmeningkatkankompetensi guru

4. Untukmengetahuisikap profesionalitas guru

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

  1. Definisi Guru

Berdasar UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Mengutip pendapat Laurence D. Hazkew dan Jonathan C. Mc Lendon dalam bukunya This is Teaching (him. 10): “Teacher is professional person who conducts classes.” (Guru adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas). Sedangkan menurut Jean D. Grambs dan C. Morris Me Clare dalam Foundation of Teaching, An Introduction to Modern Education, him. 141: “teacherarethosepersons who consciously direct the experiences and behavior of an individual so that education takes places.” (Guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang individu hingga dapat terjadi pendidikan).

Jadi, guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.

Pendapat lain menyatakan bahwa guru pada hakikatnya merupakan tenaga kependidikan yang memikul berat tanggung jawab kemanusiaan, khususnya berkaitan dengan proses pendidikan generasi penerus bangsa menuju gerbang pencerahan dalam melepaskan diri dari belenggu kebodohan. (Trianto, 2009:i). Betapa berat tugas dan kewajiban yang harus diemban oleh guru tersebut sehingga menuntut professionalitas dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan pendapat Syafaruddin Nurdin (2000: h.7) menyebutkan guru adalah seorang tenaga profesioanal yang dapat menjadikan murid-murdnya mampu merencanakan,menganalisisdan menyimpulkan masalah yang dihadapi.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, sebutan guru mencakup: (1) guru itu sendiri, baik guru kelas, guru bidang studi, maupun guru bimbingan dan konseling atau guru bimbingan karier; (2) guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah; dan (3) guru dalam jabatan pengawas. Sebagai perbandingan atas “cakupan” sebutan guru ini, di Filipina, seperti tertuang dalam Republic Act 7784, kata guru (teachers) dalam makna luas adalah semua tenaga kependidikan yang menyelenggarakan tugas-tugas pembelajaran di kelas untuk beberapa mata pelajaran, termasuk praktik atau seni vokasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (elementaryandsecondary level). Istilah guru juga mencakup individu-individu yang melakukan tugas bimbingan dan konseling, supervisi pembelajaran di institusi pendidikan atau sekolah-sekolah negeri dan swasta, teknisi sekolah, administrator sekolah, dan tenaga layanan bantu sekolah (supporting staf) untuk urusan-urusan administratif. Guru juga bermakna lulusan pendidikan yang telah lulus ujian negara (governmentexamination) untuk menjadi guru, meskipun belum secara aktual bekerja sebagai guru.

Secara formal, untuk menjadi profesional guru disyaratkan memenuhi kualifikasi akademik minimum dan bersertifikat pendidik. Guru-guru yang memenuhi kriteria profesional inilah yang akan mampu menjalankan fungsi utamanya secara efektif dan efisien untuk mewujudkan proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

  1. Pengertian Profesi

Secara etimologi profesi berasal dari kata profession yang berarti pekerjaan. Profesional artinya orang yang ahli atau tenaga ahli. Professionalism artinya sifat profesional. (John M. Echols & Hassan Shadily, 1990: 449).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah profesionalisasi ditemukan sebagai berikut: Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Profesional adalah: (1) bersangkutan dengan profesi, (2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, dan (3) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya. Profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi profesional. (Depdiknas, 2005: 897).

Secara leksikal, perkataan profesi itu ternyata mengandung berbagai makna dan pengertian. Pertama, profesi itu menunjukkan dan mengungkapkan suatu kepercayaan (to profess means to trust), bahkan suatu keyakinan (to belief in) atas sesuatu kebenaran (ajaran agama) atau kredibilitas seseorang (Hornby, 1962). Kedua, profesi itu dapat pula menunjukkan dan mengungkapkan suatu pekerjaan atau urusan tertentu (aparticular business, Hornby, 1962). Webster’s New World Dictionary menunjukkan lebih lanjut bahwa profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi (kepada pengembannya) dalam liberal arts atau science, dan biasanya meliputi pekerjaan mental dan bukan pekerjaan manual, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang, dan sebagainya; terutama kedokteran, hukum dan teknologi. Good’s Dictionary of Education lebih menegaskan lagi bahwa profesi itu merupakan suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relatif lama di perguruan tinggi (kepada pengembannya) dan diatur oleh suatu kode etika khusus. Dari berbagai penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa profesi itu pada hakikatnya merupakan suatu pekerjaan tertentu yang menuntut persyaratan khusus dan istimewa sehingga meyakinkan dan memperoleh kepercayaan pihak yang memerlukannya.

  1. Istilah yang Berkaitan dengan Profesi

Diskusi tentang profesi melibatkan beberapa istilah yang berkaitan, yaitu profesi, profesional, profesionalisme, profesionalisasi, dan profesionalitas. Sanusi, dkk (1991:19) menjelaskan kelima konsep tersebut sebagai berikut.

  1. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (experties) dari para anggotanya. Artinya, ia tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang yang tidak dilatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu (pendidikan/latihan prajabatan) maupun setelah menjalani suatu profesi (in-service training). Di luar pengertian ini, ada beberapa ciri profesi khususnya yang berkaitan dengan profesi kependidikan.
  2. Profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, misalnya “Dia seorang profesional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. Pengertian kedua ini, profesional dikontraskan dengan “non-profesional” atau “amatir’.
  3. Profesionalisme menunjuk kepada komitmen/teori/paham para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.
  4. Profesionalitas mengacu kepada sikap para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya.
  5. Profesionalisasi menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggota profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses pengembangan profesional (professional development) baik dilakukan melalui pendidikan/latihan “prajabatan” maupun “dalam-jabatan”. Oleh karena itu, profesionalisasi merupakan proses yang life-long dan never-ending, secepat seseorang telah menyatakan dirinya sebagai warga suatu profesi.

Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau disiapkan untuk itu.

Profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya, tapi bisa juga menunjuk pada orangnya. Profesionalisasi menunjuk pada proses menjadikan seseorang sebagai profesional melalui pendidikan prajabatan dan/atau dalam jabatan. Proses pendidikan dan latihan ini biasanya lama dan intensif.

Profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai profesi, ada yang profesionalismenya tinggi, sedang, dan rendah. Profesionalisme juga mengacu kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standar yang tinggi dan kode etik profesinya.

BAB III

PEMBAHASAN

 

  1. Pentingnya Kesesuaian Latar Pendidikan Guru

Para pembimbing dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah mereka yang mempunyai latar belakang bidang pendidikan. Mereka yang mempunyai latar belakang kualifikasi pendidikan tentunya mempunyai kelayakan yang lebih dibandingkan mereka yang tidak termasuk dalam bidang pendidikan. Sarjana Pendidikan Pendidikan Kewarganegaraan (S.Pd-PKn) jauh lebih layak dibandingkan mereka yang mempunyai gelar S.H. (Sarjana Hukum) yang sering dikatakan lebih mengerti masalah hukum dan ketatanegaraan. Hal ini karena S.Pd-PKn mempunyai bekal materi pendidikan daripada S.H.

Memang dalam hal ini kita berbicara tingkat kelayakan profesi dan bukan sekadar gelar yang mentereng. Seorang insinyur (Ir.), sepintas lebih “pandai” dibandingkan S.PdTeknik, Sarjana Pendidikan Teknik. Akan tetapi, dalam bidang pendidikan, S.PdTeknik jauh lebih bagus diberdayakan untuk menjadi pembimbing anak didik daripada seorang insinyur (Ir.). Dalam hal ini, kita berbicara mengenai kelayakan dalam menjalankan profesi sebagaimana seorang dokter dan yang lainnya. Begitulah yang seharusnya kita lakukan terhadap dunia pendidikan sehingga segala upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses ataupun hasil proses dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Para pembimbing proses pendidikan dan pembelajaran atau guru seharusnya mempunyai tingkat kualifikasi yang sesuai dengan bidang profesinya.

Akan tetapi, perlu kita akui bahwa pada kenyataannya, masih sangat banyak guru kita yang belum mempunyai tingkat kualifikasi sesuai dengan kebutuhan. Mungkin, secara latar belakang pendidikan, para guru sudah memenuhi kualifikasinya, tetapi dalam aspek kualitas diri, ternyata masih banyak guru yang belum dapat memenuhi tuntutan. Masih banyak guru yang mempunyai kualifikasi sebagaimana yang sudah disyaratkan, tetapi kualitas dirinya belum mencapai tingkatan yang dibutuhkan untuk setiap bidang profesinya. Masih banyak guru yang bertitel Sarjana Pendidikan (S.Pd.), tetapi belum mampu merealisasikan setiap tuntutan dalam bidang keguruannya.

Untuk hal tersebut, guru memang harus terus-menerus melakukan penyesuaian diri atas kualifikasinya. Hal ini sangat penting sebab penyesuaian ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan kondisi dalam diri dengan kondisi di luar diri. Guru harus melakukan reformasi atas kompetensi dirinya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan peningkatan kualitas diri, misalnya memutakhirkan pendidikannya. Jika seorang guru berlatar belakang pendidikan diploma, kewajibannya adalah melanjutkan pendidikan hingga menjadi strata 1, selanjutnya jika sudah strata 1, guru dapat mengikuti proses pendidikan untuk mendapatkan strata 2. Dengan demikian, kualitas guru dapat meningkat.

  1. Kompetensi Guru

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen bab 1 pasal 1 ayat (10) ketentuan umum dikatakan, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Jadi, kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Bab IV Pasal 10 ayat (1), yang menyatakan bahwa “Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”Khusus untuk guru PAI berdasar Permenag Nomor 16/2010 Pasal 16 ditambah satu kompetensi lagi yaitu kompetensi kepemimpinan.

Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berhubungan dan saling memengaruhi satu sama lain dan mempunyai hubungan hierarkis, artinya saling mendasari satu sama lainnya kompetensi yang satu mendasari kompetensi yang lainnya.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru menyatakan:

  1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:

  1. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
  2. pemahaman terhadap peserta didik;
  3. pengembangan kurikulum atau silabus;
  4. perancangan pembelajaran;
  5. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
  6. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
  7. evaluasi hasil belajar; dan
  8. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

        2. Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap sekurang-kurangnya meliputi:

  1. beriman dan bertakwa;
  2. berakhlak mulia;
  3. arif dan bijaksana;
  4. demokratis;
  5. mantap;
  6. berwibawa;
  7. stabil;
  8. dewasa;
  9. jujur;
  10. sportif;
  11. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
  12. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
  13. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

   3. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:

  1. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
  2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
  3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
  4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku; dan
  5. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

 

      4. Kompetensi Profesional

Kompetensi professional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:

  1. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
  2. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

       5. Kompetensi kepemimpinan

Kompetensi kepemimpinan sebagaimana dimaksud pada Permenag Nomor 16/2010 ayat (1) meliputi:

  1. kemampuan membuat perencanaan pembudayaan pengamalan ajaran agama dan perilaku akhlak mulia pada komunitas sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran agama;
  2. kemampuan mengorganisasikan potensi unsur sekolah secara sistematis untuk mendukung pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah;
  3. kemampuan menjadi inovator, motivator, fasilitator, pembimbing dan konselor dalam pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah; serta
  4. kemampuan menjaga, mengendalikan, dan mengarahkan pembudayaan pengamalan ajaran agama pada komunitas sekolah dan menjaga keharmonisan hubungan antar pemeluk agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  1. UpayaMeningkatkanKompetensi Guru

Beberapa kegiatan peningkatan kualitas diri yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut.

  1. Mengikuti Kegiatan Perkuliahan

Perkuliahan merupakan salah satu cara yang sering ditempuh untuk dapat meningkatkan kompetensi diri, khususnya terkait dengan kompetensi intelektual. Dengan mengikuti proses perkuliahan, seseorang dapat meningkatkan kompetensi dirinya sedemikian rupa sehingga pengetahuannya menjadi lebih baik dan pola pemikirannya menjadi lebih teratur dan terarah.

Peningkatan kualitas diri dengan mengikuti kegiatan perkuliahan merupakan proses formal yang dilakukan, baik secara reguler maupun secara ekstensi. Perkuliahan secara reguler berarti guru harus mengikuti kegiatan sesuai dengan jadwal yang disusun kampus sebagaimana yang diterapkan pada perkuliahan biasa. Guru harus mengikuti kegiatan perkuliahan sebagaimana mahasiswa umumnya. Sementara itu, perkuliahan secara ekstensi adalah perkuliahan yang mengikuti jadwal guru. Artinya, guru mengambil hari-hari tertentu untuk dapat mengikuti proses perkuliahan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu tugas dan kewajiban utamanya sebagai guru.

Pada umumnya, guru yang mengikuti kegiatan perkuliahan ini adalah guru yang belum mempunyai kelayakan latar pendidikan, misalnya belum mencapai tingkat sarjana. Sesuai dengan ketentuan, para guru sekarang ini harus mempunyai kualifikasi latar belakang pendidikan strata 1 atau sarjana. Oleh karena itulah, guru-guru yang belum sarjana berduyun-duyun mengikuti perkuliahan strata 1. Bahkan, tidak jarang para guru yang sudah mempunyai latar belakang pendidikan strata 1 masih mengikuti proses perkuliahan strata 2 atau pascasarjana. Inilah yang kita maksudkan sebagai kesadaran profesi yang dimiliki oleh para guru kita. Kondisi seperti ini sudah seharusnya mendapatkan apresiasi dan persepsi positif dari para pemegang kebijakan di dunia pendidikan.

Kegiatan perkuliahan yang diikuti para guru ini merupakan satu bentuk kepedulian dan kesadaran profesi yang sedemikian rupa untuk meningkatkan kompetensi diri. Kita dapat membayangkan seberapa besar peningkatan kualitas guru kita jika seluruh guru mengikuti kegiatan perkuliahan, proses pendidikan dan pembelajaran di negeri ini tentu mampu mencapai hasil sesuai tujuannya. Semua guru tentunya berkualitas tinggi sehingga mampu menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas. Jika proses pendidikan dan pembelajaran sudah berkualitas, tentunya hasil proses diyakini juga berkualitas.

Peningkatan kompetensi guru dengan mengikuti proses perkuliahan memang proses yang paling banyak dilakukan dan cara inilah yang dianggap paling sesuai dengan ketentuan yang ada. Dengan mengikuti kegiatan perkuliahan, materi pelajaran atau pendidikan yang diterima guru sesuai dengan kebutuhan dan kurikulum yang berlaku. Pada sisi lainnya, jika guru mengikuti proses pendidikan dalam kegiatan perkuliahan, mereka mendapatkan bukti pendidikan yang berupa ijazah yang menyatakan kualifikasinya. Pada ijazah itulah, tertera kualifikasi yang dimilikinya berdasarkan ijazah tersebut.

  1. Mengikuti Kegiatan atau Program Pendidikan Profesi

Cara kedua yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan kompetensi dirinya, khususnya kompetensi intelektualnya, adalah dengan mengikuti kegiatan atau program pendidikan profesi. Pendidikan profesi ini terutama terkait dengan kompetensi yang sesuai dengan aspek pendidikan. Pendidikan profesi ini mengedepankan proses pembekalan guru atas beberapa teori dan keterampilan terkait dengan proses pendidikan dan pembelajaran. Setiap guru yang mengikuti program pendidikan profesi diarahkan untuk dapat menguasai berbagai ilmu pendidikan.

Pendidikan profesi diselenggarakan oleh pemerintah secara bebarengan dengan banyak guru dari sekolah dan daerah lain. Dalam satu waktu, sekelompok guru mengikuti kegiatan pendidikan profesi yang berupaya untuk mengembangkan kompetensi dirinya sesuai dengan kualifikasi latar belakang pendidikannya. Pendidikan profesi yang diselenggarakan merupakan proses peningkatan kompetensi guru yang simultan dengan ketentuan dasar kompetensi guru. Hal khusus yang dibahas dalam program pendidikan profesi adalah peningkatan penguasaan materi pendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Guru diingatkan kembali mengenai bagaimana menyusun program pembelajaran, mengelola kelas pembelajaran, melakukan evaluasi terhadap proses pendidikan, menerapkan media pendidikan, strategi pembelajaran, dan banyak hal terkait dengan penyelenggaraan proses pendidikan yang menjadi tanggung jawab utama para guru.

Pendidikan profesi ini sangat penting diselenggarakan dan diikuti para guru sebagai wujud tanggung jawab untuk menciptakan proses pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas. Hal ini dilakukan sebab ditengarai masih cukup banyak guru yang belum mempunyai kompetensi sebagaimana yang dituntut dalam UUGD. Fenomena penurunan kualitas hasil proses pendidikan dikambinghitamkan karena kualitas guru yang kurang sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menyebabkan ada banyak aspek pendidikan yang tidak tercapai. Banyak masalah pendidikan yang belum terselesaikan sebab tingkat kemampuan guru untuk membimbing anak dalam penyelesaikan masalah belum mampu melakukan hal tersebut. Kondisi inilah yang dicoba untuk diperbaiki secara simultan sehingga secara maksimal para guru mengalami perubahan kompetensi secara signifikan.

  1. Belajar Secara Mandiri

Untuk meningkatkan kualitas diri, guru dapat juga melakukannya secara mandiri. Artinya, mereka melakukan proses belajar dengan cara mengaktifkan diri pada kegiatan belajar dan berlatih. Kegiatan belajar dan berlatih yang dilakukan secara mandiri dan autodidak inilah yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan kompetensi para guru. Tentunya, dalam kegiatan ini, semangat berubah harus dimiliki oleh para guru. Hanya dengan semangat yang tinggi, proses perubahan kompetensi yang kita harapkan dapat menjadi nyata.

Proses belajar mandiri yang kita maksudkan dalam hal ini adalah kesadaran guru untuk secara intens melakukan proses pendidikan dan pembelajaran dengan membaca dan melatih kemampuan dirinya. Sebagaimana konsep pembelajaran mandiri, pada saat melakukan proses pembelajaran, guru melakukannya dengan mengaktifkan diri dalam situasi belajar yang dikondisikan sendiri. Para guru tidak membutuhkan pembimbing atau situasi khusus. Mereka dapat membaca materi pembelajaran yang dimaksudkan dan selanjutnya melatih diri untuk menerapkan konsep-konsep yang didapatkan dari proses membacanya.

Kondisi ini dapat dilakukan oleh para guru secara sinergis dengan kegiatan pembelajaran yang diselenggarakannya untuk anak-anak. Pada saat tertentu, guru membaca konsep-konsep dasar pendidikan dan menerapkan konsep tersebut pada saat menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian, guru mendapatkan dua kesempatan sekaligus, yaitu kesempatan belajar mandiri dan kesempatan mempraktikkan segala konsep yang dipelajarinya. Dengan cara seperti ini, peningkatan kualitas guru didapatkan secara utuh, baik teoretis maupun praktisnya.

Untuk menyelenggarakan program belajar mandiri ini, dapat dilakukan dengan berkelompok dengan guru lainnya, misalnya dengan mengefektifkan kinerja MGMP. MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran merupakan satu kelompok guru dengan mata ajar yang sama dan mengadakan kegiatan efektif untuk pengondisian proses pendidikan dan pembelajaran. Dalam kegiatan periodis yang diselenggarakan, para guru mencoba untuk mensinkronkan langkah, persepsi, dan apresiasi terkait dengan cara musyawarah.

MGMP yang kita kenal merupakan upaya mandiri yang dilakukan oleh kelompok guru mata pelajaran agar terjadi kesamaan materi dan metode pada saat menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan melakukan musyawarah ini, setidaknya para guru dapat saling belajar sebab pada saat itulah terjadi sharing kemampuan di antara para guru. Guru-guru yang mempunyai kemampuan atau pengalaman lebih dapat membimbing guru-guru yang masih miskin pengalaman. Inilah yang selanjutnya kita katakan sebagai kolaborasi guru mata pelajaran. Tentunya, jika guru secara aktif mengikuti musyawarah guru mata pelajaran ini, kemampuan dirinya dapat meningkat secara signifikan. Ada saling mengisi di antara para guru sehingga terjadi kesamaan dalam penyelenggaraan proses.

  1. Sikap Profesionalitas Guru

Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Dengan keahliannya itu, seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.

Di samping dengan keahliannya, sosok profesional guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab sosial, intelektual, moral, dan spiritual.

Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaksi yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk yang beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dan moral.

Sebagai ilustrasi profesionalitas guru berikut tampak perbandingan antara sikap profesional dan sikap amatir (tidak profesional) tampak pada tabel 1.

Tabel 1

Perbandingan Sikap Guru Profesional dan Amatir

PROFESIONAL AMATIR
Guru memandang tugas sebagai bagian dari ibadah Guru memandang tugas semata-mata bekerja
Guru memandang profesi guru adalah mulia dan terhormat Guru memandang profesi guru biasa saja
Guru menganggap kerja itu adalah amanah Guru memandang kerja itu hanya mencari nafkah
Guru memandang profesi guru sebagai panggilan jiwa Guru memandang profesi guru sebagai keterpaksaan
Guru menganggap kerja itu nikmat dan menyenangkan Guru memandang kerja itu beban dan membosankan
Guru menganggap kerja itu sebagai bentuk pengabdian Guru menganggap kerja itu murni mencari penghasilan
Guru memiliki rasa/ruhul jihad dalam mengajarnya Guru mengajar sekadar menggugurkan kewajiban
Guru mempelajari setiap aspek dari tugasnya Guru amatir mengabaikan untuk mempelajari tugasnya
Guru akan secara cermat menemukan apa yang diperlukan dan diinginkan Guru amatir menganggap sudah merasa cukup apa yang diperlukan dan diinginkan
Guru memandang, berbicara, dan berbusana secara sopan dan elegan Guru amatir berpakaian dan berbicara semaunya
Guru akan menjaga lingkungan kerjanya selalu rapi dan teratur Guru amatir tidak memerhatikan lingkungan kerjanya
Guru bekerja secara jelas dan terarah Guru amatir bekerja secara tidak menentu dan tidak teratur
Guru tidak membiarkan terjadi kesalahan Guru amatir mengabaikan atau menyembunyikan kesalahan
Guru berani terjun kepada tugas-tugas yang sulit Guru amatir menghindari pekerjaan yang dianggap sulit
Guru akan mengerjakan tugas secepat mungkin Guru amatir akan membiarkan pekerjaannya terbengkalai
Guru akan senantiasa terarah dan optimistik Guru amatir bertindak tidak terarah dan pesimis
Guru akan memanfaatkan dana secara cermat Guru amatir akan menggunakan dana tidak menentu
Guru bersedia menghadapi masalah orang lain Guru amatir menghindari masalah orang lain
Guru menggunakan nada emosional yang lebih tinggi seperti antusias, gembira, penuh minat, bergairah Guru amatir menggunakan nada emosional rendah seperti marah, sikap permusuhan, ketakutan, penyesalan, dan sebagainya
Guru akan bekerja sehingga sasaran tercapai Guru amatir akan berbuat tanpa memedulikan ketercapaian sasaran
Guru menghasilkan sesuatu melebihi dari yang diharapkan Guru amatir menghasilkan sekadar memenuhi persyaratan
Guru menghasilkan sesuatu produk atau pelayanan bermutu Guru amatir menghasilkan produk atau pelayanan dengan mutu rendah
Guru mempunyai janji untuk masa depan Guru amatir tidak memiliki masa depan yang jelas

 

 


 

BAB IV

ANALISIS

 

  1. Astaga, 49,3% Guru di Indonesia Belum Sarjana

Jum’at, 08 Maret 2013 10:57 wib | Bramantyo – Okezone

http://kampus.okezone.com/read/2013/03/08/373/772874/astaga-49-3-guru-di-indonesia-belum-sarjana

 

SOLO – Pengamat Pendidikan Muhammad Zuhdan mengungkap, di antara 2,92 juta guru di Indonesia, ternyata masih ada 1,44 juta guru yang belum berpendidikan Strata 1 (S-1). Jumlah itu setara dengan 49,3 persen dari total guru di Indonesia.

“Dari sisi kualitas guru bisa dikatakan masih rendah,” ujar Zuhdan, di depan peserta Seminar Nasional Pendidikan Berperspektif Global: Akar Perubahan Sistem Pendidikan Indonesia, di Solo, Jawa Tengah, belum lama ini.

Namun demikian, lanjut Zuhdan, di Indonesia saat ini juga masih kekurangan guru. Perbandingan guru untuk sekolah di perkotaan, desa dan daerah terpencil masing-masing 21 persen, 37 persen, dan 66 persen. Guru yang memiliki kualitas bagus enggan ditempatkan di daerah jauh dan terpencil. “Padahal semestinya ada pemerataan,” ujarnya.

Berdasarkan data Education For All (EFA) atau indeks pembangunan pendidikan untuk semua, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan peringkat dari 65 pada 2012 menjadi peringkat 69 pada 2011 dari 127 negara di dunia.

“Variabel bisa diukur dari kualitas guru yang rendah, anak putus sekolah, kurikulum yang tidak memenuhi standar dan infrastruktur yang buruk,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Zuhdan mengatakan bahwa tercatat ada 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. (rfa)

  1. Kualitas Guru di Indonesia Masih Rendah

Minggu, 30 September 2012 14:19 WIB

http://www.tribunnews.com/nasional/2012/09/30/kualitas-guru-di-indonesia-masih-rendah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dari data Kementerian Pendidikan Nasional, secara umum kualitas dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai harapan. Hingga saat ini baru sekitar 51 persen berpendidikan S1 sedangkan sisanya belum berpendidikan S1.

“Jadi baru ada 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi,”ujar Divisi Advokasi YAPPIKA, Hendrik Rosnidar, Minggu (30/9/2012).

Hal ini selaras dengan  survei yang dilakukan oleh Putera Sampoerna Foundation, dimana sebanyak 54 persen guru di Indonesia masih berkualitas rendah.

Hal yang lebih memprihatinkan lagi, menurut Hendrik bahwa dalam sidang Kabinet terbatas di kantor Kementerian Pendidikan Kebudayaan terungkap fakta bahwa dari 285 ribu guru yang ikut uji kompetensi, ternyata 42,25% masih di bawah rata-rata.

“Padahal sebagian besar anggaran pendidikan nasional dialokasikan untuk gaji dan tunjangan guru bahkan setiap tahunnya selalu meningkat,”ungkap Hendrik.

  1. Akademisi: PPG untuk pertahankan kualitas guru

http://www.antaranews.com/berita/421427/akademisi-ppg-untuk-pertahankan-kualitas-guru

Kamis, 27 Februari 2014 23:46 WIB | 2632 Views

Pewarta: Bambang S Hadi

Yogyakarta (ANTARA News) – Program profesi guru merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kualitas guru, kata Wakil Rektor I Universitas Negeri Yogyakarta Wardan Suyanto.

“Jadi, program profesi guru (PPG) itu bukan sekadar formalitas. Kami berharap para peserta memanfaatkan kesempatan yang ada untuk belajar demi meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” katanya di Yogyakarta, Kamis.

Pada pembukaan orientasi PPG peserta Sarjana Mengejar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) angkatan kedua, ia mengatakan dalam PPG tidak diadakan perkuliahan melainkan lokakarya. Namun akan tetap ada ujian akhir.

“Jika ada yang masih merasa kurang harus belajar lagi. Kami juga berharap di antara peserta dapat saling bertukar pengalaman karena untuk menjadi guru yang baik adalah yang bisa mengajar dan ada yang diajarkan,” katanya.

Ketua Pusat Profesi Pendidik dan Tenaga Kependidikan serta Profesi Nonkependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Edi Purwanto mengatakan PPG di UNY diikuti sebanyak 259 orang dari 11 program studi.

Program studi itu adalah Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan Kimia, Pendidikan Biologi, Pendidikan IPA, Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Geografi, dan Pendidikan Ekonomi.

“PPG bertujuan untuk mempersiapkan peserta mengikuti lokakarya dan kehidupan berasrama, dan kelak untuk meluaskan tentang pendidikan guru,” katanya.

Menurut dia, para peserta akan diberikan materi tentang PPG SM3T, dinamika kelompok, kehidupan asrama, manajemen keuangan, dan kompetensi guru masa depan.

Selama mengikuti PPG di UNY peserta akan tinggal di asrama mahasiswa kampus Wates dan setiap hari akan berangkat ke kampus UNY Karangmalang menggunakan bus UNY.

“Pendidikan berasrama memang menjadi kewajiban bagi peserta PPG SM3T UNY sebagai sarana membentuk pribadi berprestasi, mandiri, dan disiplin sekaligus peka dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang majemuk,” katanya.

Editor: Tasrief Tarmizi

 

ANALISIS

Berdasarkan berita tersebut dapat diketahui bahwa kualitas guru pada saat ini masih rendah. Minggu, 30 September 2012 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Dari data Kementerian Pendidikan Nasional, secara umum kualitas dan kompetensi guru di Indonesia masih belum sesuai harapan. Hingga saat ini baru sekitar 51 persen berpendidikan S1 sedangkan sisanya belum berpendidikan S1. Menurut Divisi Advokasi YAPPIKA, Hendrik Rosnidar, baru ada 70,5 persen guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Hal ini selaras dengan  survei yang dilakukan oleh Putera Sampoerna Foundation, dimana sebanyak 54 persen guru di Indonesia masih berkualitas rendah.Hal yang lebih memprihatinkan lagi, menurut Hendrik bahwa dalam sidang Kabinet terbatas di kantor Kementerian Pendidikan Kebudayaan terungkap fakta bahwa dari 285 ribu guru yang ikut uji kompetensi, ternyata 42,25% masih di bawah rata-rata.Padahal sebagian besar anggaran pendidikan nasional dialokasikan untuk gaji dan tunjangan guru bahkan setiap tahunnya selalu meningkat.

Sedangkan menurut Pengamat Pendidikan Muhammad Zuhdan pada Jum’at, 08 Maret 2013 (kampus.okezone.com) mengungkap, di antara 2,92 juta guru di Indonesia, ternyata masih ada 1,44 juta guru yang belum berpendidikan Strata 1 (S-1). Jumlah itu setara dengan 49,3 persen dari total guru di Indonesia. Akan tetapi, di Indonesia saat ini juga masih kekurangan guru. Perbandingan guru untuk sekolah di perkotaan, desa dan daerah terpencil masing-masing 21 persen, 37 persen, dan 66 persen. Guru yang memiliki kualitas bagus enggan ditempatkan di daerah jauh dan terpencil. Padahal semestinya ada pemerataan.

Berdasarkan data Education For All (EFA) atau indeks pembangunan pendidikan untuk semua, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan peringkat dari 65 pada 2012 menjadi peringkat 69 pada 2011 dari 127 negara di dunia. Variabel bisa diukur dari kualitas guru yang rendah, anak putus sekolah, kurikulum yang tidak memenuhi standar dan infrastruktur yang buruk. Zuhdan mengatakan bahwa tercatat ada 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Setiap menit ada empat anak yang putus sekolah.

Karena masih rendahnya kualitas guru maka perlu diadakan upaya peningkatan kualitas guru. Salah satunya dengan program profesi guru. PadaKamis, 27 Februari 2014, Yogyakarta (ANTARA News) – Program profesi guru merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kualitas guru, menurut Wakil Rektor I Universitas Negeri Yogyakarta WardanSuyanto. Jadi, program profesi guru (PPG) itu bukan sekadar formalitas. PPG bertujuan untuk mempersiapkan peserta mengikuti lokakarya dan kehidupan berasrama, dan kelak untuk meluaskan tentang pendidikan guru. Menurut beliau, para peserta akan diberikan materi tentang PPG SM3T, dinamika kelompok, kehidupan asrama, manajemen keuangan, dan kompetensi guru masa depan. Selama mengikuti PPG di UNY peserta akan tinggal di asrama mahasiswa kampus Wates dan setiap hari akan berangkat ke kampus UNY Karangmalang menggunakan bus UNY. Pendidikan berasrama memang menjadi kewajiban bagi peserta PPG SM3T UNY sebagai sarana membentuk pribadi berprestasi, mandiri, dan disiplin sekaligus peka dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang majemuk.

Untuk meningkatkan kualitas guru, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah mencanangkan berbagai program yang bertujuan untuk memberikan kesempatan guru dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas dirinya. Bahkan, untuk mendukung kebutuhan dana pendidikan, pemerintah mengalokasikan dana anggaran belajar sebesar 20%, baik APBN maupun APBD. Pengalokasian dana anggaran belajar ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat bagus bagi dunia pendidikan.

 

BAB V

PENUTUP

 

Kesimpulan

Berdasar UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Oleh karena itu, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Kompetensi yang harus dimiliki oleh guru berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Bab IV Pasal 10 ayat (1), yang menyatakan bahwa “Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”Khusus untuk guru PAI berdasar Permenag Nomor 16/2010 Pasal 16 ditambah satu kompetensi lagi yaitu kompetensi kepemimpinan.

Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berhubungan dan saling memengaruhi satu sama lain dan mempunyai hubungan hierarkis, artinya saling mendasari satu sama lainnya kompetensi yang satu mendasari kompetensi yang lainnya.

Beberapa kegiatan peningkatan kualitas diri yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:

  1. Mengikutikegiatanperkuliahan
  2. Mengikutikegiatanatau Program PendidikanProfesi
  3. Belajarsecaramandiri

Sikap profesionalitas guruakan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Dengan keahliannya itu, seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.

Di samping dengan keahliannya, sosok profesional guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab sosial, intelektual, moral, dan spiritual.

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Hamzah B. Uno. 2007. Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara
  2. Mohammad Saroni. 2011. Personal Branding Guru: Meningkatkan Kualitas dan Profesionalitas Guru. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media
  3. Ali Mudlofir. 2012. Pendidik Profesional: Konsep, Strategi dan Aplikasinya dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Rajawali
  4. Tri Jaka Kartana. 2011. Manajemen Pendidikan (Implementasi pada Sekolah). Tegal: Badan Penerbitan Universitas Pancasakti Tegal
  5. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
  6. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen
  7. Peraturan PemerintahRepublik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru
  8. http://kampus.okezone.com/read/2013/03/08/373/772874/astaga-49-3-guru-di-indonesia-belum-sarjana
  9. http://www.tribunnews.com/nasional/2012/09/30/kualitas-guru-di-indonesia-masih-rendah
  10. http://www.antaranews.com/berita/421427/akademisi-ppg-untuk-pertahankan-kualitas-guru

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s