KERAJAAN DEMAK

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LatarBelakang

Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah.Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi).

Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vasal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.

        2. RumusanMasalah

  1. Bagaimana Latar belakang berdirinya Kerajaan Demak?
  2. Siapa saja raja – raja yang pernah memerintahDemak?
  3. Bagaimana Gambaran kehidupan politik, ekonomi, dan sosial budaya Demak?
  4. Bagaimana runtuhnya kerajaan Demak?
  5. Apa saja peninggalan kerajaan Demak?

3. TujuanPenulisan

  1. Mengetahui latar belakang berdirinya kerajaan Demak
  2. Mengenal lebih jauh raja – raja yang pernah memerintah Demak
  3. Memahami kehidupan politik, ekonomi, social budaya Demak
  4. Mengetahui penyebab keruntuhan kerajaan Demak
  5. Mengetahui peninggalan bersejarah kerajaan Demak

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Demak

Berdirinya Kerajaan Demak dilatarbelakangi oleh melemahnya pemerintahan Kerajaan Majapahit atas daerah-daerah pesisir utara Jawa.Daerah-daerah pesisir seperti Tuban dan Cirebon sudah mendapat pengaruh Islam.Dukungan daerah-daerah yang juga merupakan jalur perdagangan yang kuat ini sangat berpengaruh bagi pendirian Demak sebagai kerajaan Islam yang merdeka dari Majapahit.

Demak sebelumnya merupakan daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) raja Majapahit.

Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit.

Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah.Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi).

Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.

Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultananIslam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan.Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir.Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kotaDemak di Jawa Tengah. Pada masa sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca “Prawoto”).

       Kisah berdirinya Kerajaan Demak mirip dengan kisah berdirinya Kerajaan Majapahit yang digantikannya. Babad Tanah Jawi mengkisahkan bahwa Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel membuka hutan di Glagah Wangi dan kota baru di Glagah Wangi itu lalu diberi nama Bintara.

Ketika Prabu Brawijaya mengetahui bahwa sebenarnya Raden Patah adalah putranya sendiri dari selir putri Cina yang dihadiahkannya kepada Arya Damar, Adipati Palembang, kemudian Raden Patah diangkat sebagai adipati di Bintara tersebut dan sebagian bawahan Majapahit berkewajiban menghadap Sang Prabu setahun sekali di Istana Majapahit. Sejak saat itu nama Bintara diganti dengan Demak.

Kisah Babad Tanah Jawi tersebut pada dasarnya memberikan legitimasi historis, yuridis dan genealogis terhadap kedudukan Demak sebagai kerajaan Islam yang pertama di Jawa.Dua legitimasi yang pertama, historis dan yuridis, mencatat tiga hal yang pokok dari kisah Babad Tanah Jawi tersebut.Pertama, penebangan Hutan Glagah Wangi yang kemudian dinamai Bintara.Dalam masyarakat agraris rupanya penebangan, pembukaan dan pengusahaan hutan senantiasa dipandang sebagai awal sejarah suatu dinasti dan memberikan legalisasi suatu pemukiman.Pararaton mencatat pembukaan Hutan Tarik sebagai awal sejarah Dinasti dan Kerajaan Majapahit.Babad Tanah Jawi mencatat juga pembukaan Hutan Mentaok di Mataram di Mataram sebagai legalisasi hak pemukiman dan awal sejarah dari Dinasti Raja-raja Mataram.Kedua, legalisasi Bintara sebagai bagian wilayah Majapahit dengan kedudukan sebagai kadipaten.Raden Patah diangkat sebagai Adipati Bintara yang pertama. Dan yang ketiga, pengukuhan kedudukan dengan penganugerahan nama baru Demak bagi Bintara.

Penelusuran Etimologi kata-kata bintara dan Demak kiranya dapat memperjelas legitimasi historis dan yuridis diatas.Orang yang pertama mempersoalkan etimologi tiponim Bintara adalah Sutjipto Wirjosuparto. Dengan agak ragu-ragu ia mengkaitkan nama Bintara dengan perkataan Bethara, salah satu gelar Dewa Siwa. Kaitan antara nama Bintara dengan bethara yang dalam mitologi Hindu dianggap bertakhta di Bukit keramat yang bernama Parwata (Himalaya) didasarkan adanya nama bukit Prawata di Grobogan. Di samping kurang meyakinkan, penjelasan ini rupanya kurang mendukung arah pemikiran kita.

Penjelasan Slamet Muljana ternyata lebih dekat dengan arah pembicaraan kita.Ia mengungkap bahwa “Bintara” berasal dari kata “abhyantara” dalam bahasa Jawa Kuno sebagai terdapat dalam Kakawin Ramayana atau pun Kakawin Negarakertagama. Ia mengartikan abhyantara dengan interior (dalam) atau halaman dalam istana atau istana itu sendiri. Perubahan arti dari istana menjadi negara kiranya mudah pula dipahami, karena istana raja biasanya ada di atau menjadi ibu kota suatu negara. Jadi pembukaan Hutan Glagah Wangi yang dalam kisah Babad Tanah Jawi diubah menjadi Bintara seharusnya diartikan sebagai pembukaan Hutan Glagah Wangi untuk kemudian diubah menjadi kota atau negara. Namun rupanya penulis Babad Tanah Jawi kuarang memahami bahasa Jawa Kuno, sehingga kata abhyantara yang kemudian berubah menjadi bintara dianggap sebagai perubahan nama dari Glagah Wangi menjadi bintara.

Setelah Glagah Wangi menjadi kota atau negara kemudian kedudukannya diakui dan dianugerahkan oleh Prabu Brawijaya kepada Raden Patah dengan kedudukan sebagai adipati. Peristiwa historis dan yuridis ini dapat ditelusuri dari etimologi toponim Demak dalam kaitannya dengan kata bintara. Kata Demak bukan berasal dari kata Arab “dama” yang berarti air mata sebagaimana dikemukakan oleh Hamka, juga bukan berasal dari kata Arab “dhima” yang berarti rawa-rawa menurut pendapat Solichin Salam. Sedangkan menurut Slamet Muljana toponim Demak berasal dari kata Jawa Kuno asli Demak yang berarti anugerah atau pemberian.Kata Demak yang artinya anugerah atau pemberian ini dapat diketemukan dalam Kakawin Ramayana VI/8 dan Bhomakawya XI/5. Kakawin Ramayana misalnya, mencatat peristiwa pemberian anugerah oleh Rama kepada prajurit kera masing-masing sesuai dengan jasanya dengan kata-kata: “Wineh demak kapwa yatha kramanya”. Dalam hubungan ini maka pemberian nama Demak kepada kota atau negara baru di Glagah Wangi itu mengandung arti sebagai penganugerahan dan sekaligus pengukuhan Glagah Wangi sebagai kadipaten Majapahit. Demak berarti tanah yang dianugerahkan.

Dalam sejarah Jawa dari zaman Mataram Kuno sampai zaman Majapahit biasanya penganugerahan tanah semacam Demak itu disertai dengan suatu prasasti.Sebagian besar prasasti yang ditemukan di Jawa adalah prasasti penganugerahan tanah.Maka jika benar Raden Patah pernah menerima anugerah tanah Bintara dari Raja Majapahit Prabu Brawijaya, mestinya pemberian anugerah tanah itu disertai juga dengan prasasti sebagai pikukuh.Namun sampai sekarang prasasti pemberian anugerah tanah oleh Prabu Brawijaya kepada Raden Patah itu belum diketemukan.Boleh jadi prasasti itu telah hilang dan belum diketemukan kembali.Demikianlah penelusuran etimologi toponim kedua kata “Bintara” dan “Demak” telah memperkuat penjelasan Babad Tanah Jawi mengenai sejarah dan perkembangan kedudukan yuridis Kerajaan Demak.

Legitimasi genealogis dengan jelas dinyatakan dalam Babad Tanah Jawi bahwa Raden Patah adalah putra sendiri Prabu Brawijaya dari selir putri Cina yang dihadiahkannya (tetriman) kepada Arya Damar, Adipati Palembang.Sesuai dengan pola umum historiografi dalam babad kontinuitas genealogis ini diperlukan agar dengan demikian peralihan kekuasaan dapat disahkan.Legitimasi genealogis ini bagi kerajaan Demak memiliki makna tersendiri, sebab peralihan kekuasaan tersebut tidak saja dalam politik namun menyangkut pula masalah agama.Kerajaan Demak yang telah menganut agama Baru Islam tetap dipandang sebagai pengganti dan penerus yang sah Kerajaan Majapahit.

Peristiwa penganugerahan tanah Bintara dan pengangkatan Raden Patah sebagai Adipati Bintara serta penganugerahan nama baru Demak bagi negara baru itu dipandang sebagai saat berdirinya Kerajaan Islam Demak, Babad Demak memperingati berdirinya Kerajaan Demak itu dengan candrasengkala: “Geni mati siniraming janmi” atau 1403 Saka (1481 M).

Sumber-sumber Portugis seperti Lopez de Castanheda, Joao de Barros dan Tome Pires tidak pernah menyinggung-nyinggung tahun berdirinya kerajaan Demak.Ini rupanya karena ketika Portugis datang ke Indonesia, Kerajaan Demak telah lama berdiri. Pada waktu Tome Pires berkunjung ke Jawa pada 1513 Raden Patah telah lama menjadi Raja Demak dan telah tampil sebagai tokoh yang cukup terkenal. Tome Pires menyebut Raden Patah dengan nama Rodin Senior, karena pada waktu itu Raden Patah telah mempunyai putra yang dicatatnya sebagai Rodin Junior. Boleh jadi yang disebutnya Kodin Junior itu adalah Raden Trenggana. Rupanya sebutan Rodin berasal dari Raden singkatan dari Raden Patah, yang dikira oleh Tome Pires sebagai nama diri atau nama pribadi. Demikianlah kiranya sumber-sumber Portugis tidak mengetahui bahwa Raden Patah sebagai pendiri Kerajaan Demak yang sebelumnya berupa hutan yang penuh rawa-rawa yang bernama Glagah Wangi.

Dua puluh tahun kemudian, sekitar 1500-an, Raden Patah dengan terang-terangan memutuskan segala tali ikatannya dengan Majapahit yang sudah semakin tidak berdaya.Dengan bantuan daerah-daerah lainnya di Jawa Timur yang sudah Islam seperti Jepara, Tuban, dan Gresik.Raden Patah berhasil merobohkan Majapahit dan kemudian memindahkan semua benda upacara kerajaan dan pusaka-pusaka Majapahit ke Demak.Lagi-lagi hal ini dipergunakan untuk memberikan legalisasi kepada kerajaan Demak sebagai kelanjutan Kerajaan Majapahit tetapi dalam bentuk baru sebagai kerajaan Islam.Setelah Demak merdeka dan sebagai Kerajaan Islam merupakan satu-satunya penguasa di Jawa, maka Sunan Ampel menabalkan Raden Patah sebagai Sultan dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah.Dari gelar inilah kiranya maka raja pertama Demak ini dalam berbagai babad dikenal sebagai Raden Patah.Babad Tanah Jawi sendiri mencatat gelar Raden Patah sebagai Senapati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.Sedang Serat Kandha mencatat gelar itu dengan lebih singkat ialah Panembahan Jimbun.

        2. Raja-raja Kerajaan Demak

  1. Raden Patah (1500-1518 M)

Raden Patah ialah seorang putra Brawijaya dari ibunya putri Cina.Ketika Raden Patah masih dalam kandungan, ibunya oleh Brawijaya dititipkan kepada gubernur di Palembang.Menurut babat tanah jawa Raden Patah adalah anak Brawijaya yang terakhir.Menurut Kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) atau disebut juga prabu Brawijaya V dari selir Cina.

Pertama kali Raden Patah ke Jawa menjadi santri Sunan Ampel.Raden Patah tetap tinggal di Ngampel Denta, kemudian diangkat sebagai menantu Sunan Ngampel, dikawinkan dengan cucu perempuan, anak sulung Nyai Gede Waloka.Raden Patah pindah ke Jawa Tengah, di situ ia membuka hutan Glagahwangi atau hutan Bintara menjadi sebuah pesantren dan Raden Patah menjadi ulama di Bintara dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitarnya. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Dan hal itu membuat Brawijaya menjadi resah, karena bujukan dari Sunan Ampel Brawijaya mengakui bahwa Raden Patah adalah putranya dan Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.

Dalam memimpin Kerajaan Demak Raden Patah menunjukan berbagai keberhasilan yang dapat dicapai seperti:

  1. Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan Majapahit.Selain itu, Raden Patah juga mengadakan perlawan terhadap portugis (1511), yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak.Dengan mengirim pasukannya yang dipimpin oleh Pati Unus (anak Raden Patah).
  2. Dalam bidang dakwah islam dan pengembangannya, Raden patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.

       2. Pati Unus (Pangeran sebrang Lor) (1518-1521 M)

Pada tahun 1518 Raden Patah wafat kemudian digantikan putranya (sumber Jawa) yaitu Pati Unus.Namun terdapat perbedaan pendapat, antara sumber Portugis (Barat) dengan sumber asli Indonesia atau Jawa.Pati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan pernah memimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka.Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. (Soekmono: 1973).Dalam berita Tome Pires dikenal seorang yang bernama Pate Unus yang mengadakan serangan ke Malaka tahun 1513, keberangkatan dengan armadanya dari Jepara yang berfungsi sebagai pelabuhan kerajaan Demak. H.J Graaf berpendapat bahwa raja kedua kerajaan Demak seperti disebut Tome Pires ialah Pate Rodim Sr., seorang yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang ksatria, bangsawan dan teman seperjuangan Pate Zaenal dari Gresik.

Pada awalnya Pati Unus adalah seorang penguasa di daerah Jepara, setelah dewasa Pati Unus diangkat menjadi menantu Raden Patah dinikahkan dengan putrinya.Hal itu berdasarkan sumber Portugis.Pati Unus resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri).

Pati Unus bertugas sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa, saat Samuda Pasai jatuh ketangan Portugis.Pati Unus mengirim armada kecil, ekspedidi Jihad I yang mencoba mendesak benteng Portugis di Malaka gagal dan kembali ke Jawa.Setelah itu Pati Unus melakukan persiapan yang lebih baik dengan merencanakan pembangunan armada sebanyak 375 kapal.Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang.Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II.Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

  1. Sultan Trenggono (1521-1546 M)

Raja ketiga dari Kerajaan Demak ini adalah Raden Trenggono, setelah meninggalnya Pangeran Sabrang Lor (Pati Unus) pada 1521.Masa kepemimpinannya ditandai dengan berbagai peristiwa yang mengantarkan kerajaan ini ke masa kejayaannya.Wilayah-wilayahnya diperluas ke wilayah barat dan ke wilayah timur.Masjid Demak diperbaiki sebagai lambang kekuatan Islam.

Sebagai seorang raja Islam, beliau mengambil gelar Sultan, yaitu Sultan Ahmad Abdul Arifin.Kebesaran raja ketiga ini oleh penulis Portugis, Mendez Pinto, dinyatakan dengan pemberian gelar emperador (maharaja).

Ekspedisi Demak ke wilayah barat dimulai dengan ekspedisi Syekh Nurullah (Sunan Gunung Jati) ke Jawa Barat, yang berhasil secara berturut-turut mendirikan Kerajaan Cirebon dan Banten.Penguasaan kedua wilayah ini, menurut tradisi lisan Jawa dari Cirebon dan dari Banten sangat penting artinya bagi pengembangan Islam, bahasa, dan kebudayaan Jawa di sepanjang pantai utara Jawa Barat.

Pada masanya pula, dilakukan penyerangan terakhir ke Ibu Kota Majapahit antara tahun 1525 dan 1527, yang menurut Babad Sangkala adalah Kediri, sedang menurut Tome Pires adalah Dayo. Penyerangan ini mengandung makna simbolis pemisahan antara Zaman Indonesia Hindu dengan Zaman Indonesia Islam.Pada 1527 pula, dilakukan ekspedisi ke Tuban.Meskipun daerah itu sudah lama memeluk Islam.Namun Demak menganggap mereka masih setia kepada Majapahit, sehingga perlu dilakukan penakhlukan. Berturut-turut pula ditaklukan Wirasari (1525), Gagelang/Madiun (1529), Medangkungan/Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), Lamongan, Blitar, Wirasaba (1541 dan 1542), Gunung Pananggungan (1543), Memenang atau Kediri (1544), Malang (1545).

Penaklukan yang terakhir dilakukan adalah di Blambangan, yang berada di ujung Jawa Timur. Ini merupakan benteng terakhir Hindu, bahwa ketika Brawijaya dikalahkan oleh Demak, ia mengungsi ke daerah itu untuk mencari bantuan dari Bali yang mayoritas Hindu. Namun akhirnya Blambangan menyerah kepada Demak, dan Demak akhirnya kehilangan Sultan Trenggono yang meninggal.

Gugurnya Sultan Trenggono ini merupakan akhir dari usaha ekspansi Demak ke wilayah bekas bawahan Majapahit.

  1. Sunan Prawoto (1546-1549)

Menurut berbagai babad, Sunan Prawoto lah yang naik tahta, karena dianggap paling berhak.Ia pun didukung oleh masyarakat yang menganggap Masjid Demak yang suci sebagai pusat kerajaan.

Masa pemerintahannya cukup pendek, dari 1546-1549.Juga merupakan antiklimaks dari masa kejayaan yang sudah dicapai sebelumnya.Ia dan keluarganya dibunuh oleh Arya Panangsang, yang membalas dendam atas pembunuhan ayahnya, Pangeran Sekar Seda ing Lepen (meninggal di tepi sungai).

           3. Gambaran Kehidupan Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Kerajaan Demak

  1. Gambaran Kehidupan Politik Kerajaan Demak

Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500-1518).

Pada masa pemerintahannya, Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa.Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.Meski serangan Demak terhadap Portugis mengalami kegagalan,Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa.Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518-1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521-1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Demak dapat memperluas daerah kekuasaannya antara lain karena Sultan Trenggono melakukan penyerangan terhadap daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu yang mengadakan hubungan dengan Portugis seperti Sunda Kelapa (Pajajaran) dan Blambangan. Penyerangan terhadap Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan karena adanya perjanjian antara raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan Portugis yang diperkuat dengan pembuatan tugu peringatan yang disebut Padrao. Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis diperbolehkan mendirikan Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan mendapatkan rempah-rempah dari Pajajaran. Sebelum Benteng tersebut dibangun oleh Portugis, tahun 1526 Demak mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa, di bawah pimpinan Fatahillah.Dengan penyerangan tersebut maka tentara Portugis dapat dipukul mundur ke Teluk Jakarta.Kemenangan gemilang Fatahillah merebut Sunda Kelapa tepat tanggal 22 Juni 1527 diperingati dengan pergantian nama menjadi Jayakarta yang berarti Kemenangan Abadi. Sedangkan penyerangan terhadap Blambangan (Hindu) dilakukan pada tahun 1546, di mana pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono yang dibantu oleh Fatahillah, tetapi sebelum Blambangan berhasil direbut Sultan Trenggono meninggal di Pasuruan.

Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, maka terjadilah perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Trenggono) dengan Sunan Prawoto (putra Trenggono) dan Arya Penangsang (putra Sekar Sedolepen).

Perang saudara tersebut diakhiri oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan, sehingga pada tahun 1568 Pangeran Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Demak dan hal ini juga berarti bergesernya pusat pemerintahan dari pesisir ke pedalaman.

  1. Gambaran Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak

Dilihat dari letaknya, Kerajaan Demak terletak disebelah utara Pulau Jawa atau dipesisir pantai utara Pulau Jawa.Dengan letak yang begitu strategis dalam jalur perdagangan Nusantara, karena berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian timur.Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang.Letak kerajaan Demak yang strategis, sangat membantu Demak sebagai kerajaan Maritim.Pada zaman dulu Demak terletak ditepi pantai Selat Muria yang memisahkan Jawa dari pegunungan Muria.Sampai sekitar abad ke-17 selat cukup lebar dan dalam serta dapat dilayari, sehingga kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas berlayar melalui Demak terus ke Rembang.Kemudian Demak dapat berkembang menjadi pangkalan yang amat penting, karena pelayaran dunia yang melintang di laut Nusantara dari Malaka ke Maluku dan sebaliknya mesti melalui dan singgah di Bandar Demak.

Demak juga merupakan kerajaan agraris.Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah dipedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang.Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.Pertanian di Demak tumbuh dengan baik karena aliran sungai Demak lewat pelabuhan Bergota dan Jepara.Demak bisa menjual produksi andalannya seperti beras, garam dan kayu jati.Pada abad ke-16 demak menjadi pusat penimbunan beras hasil dari daerah-daerah sebelah Selat Muria.Demikianlah akhirnya Demak menjadi pengekspor tunggal hasil beras di daerah lautan Nusantara, ekspor lainnya adalah kain tenun Jawa, terutama kedaerah-daerah Indonesia Timur.Bagi daerah rempah-rempah itu kain tenun Jawa dapat menyaingi tekstil Impor dari India ataupun Cina.Meskipun rempah-rempah dan beras merupakan mata dagangan pokok bagi Demak dibandar-bandar Jawa dan di Bandar dunia Malaka, namun perdagangan antar Asia pun sebagaian besar dikuasai pula oleh Demak.

  1. Gambaran Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Demak

Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.

Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang.Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak.Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan dan para wali/ulama dengan rakyat.Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren.Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah.

Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari kerajaan Demak.Salah satunya adalah Masjid Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal.Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Selain itu para wali meninggalkan banyak sekali peninggalan-peninggalan peradaban Islam yang masih bisa diamati, antara lain: pewayangan, gamelan, tembang macapat, seni, teknik pembuatan keris, walaupun sebenarnya hal tersebut sudah mendapat tempat tersendiri di masyarakat PraIslam.

            4. Keruntuhan Kerajaan Demak

Pemerintahan Raden Patah kira-kira berlangsung di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke 16. Tatkala perjuangan Raden Patah melawan Portugis belum selesai, pada tahun 1518 beliau wafat, dan digantikan oleh puteranya, Adipati Unus ( Pangeran Sebrang Lor ). Dikenal denagan nama tersebut, karena dia pernah dia menyebrang ke utara untuk menyerang Portugis yang ada di sebelah utara (Malaka). Disamping itu, dikenal dengan nama Cu Cu Sumangsang atau Aria Penangsang. Namun sayang, dia hanya memerintah selam tiga tahun sehingga usahanya sebagai negarawan tidak banyak diceritakan. Konon, dia mempunyai armada laut yang terdiri dari 40 kapal juang yang berasal dari daerah-daerah taklukan, terutama yang diperoleh dari Jepara.

Sebagai penggantinya adalah Sultan Trenggono/ Tranggana, saudara Adipati Unus.Dia memerintah tahun 1512-1546. Tatkala memerintah, kerajaan telah diperluas ke barat dan ke hulu Sungai Brantas atau pada saat ini dikenal dengan kota Malang.Sebagai lambang kebesaran Islam, Masjid Demak pun dibangun kembali.

Dengan gambaran tersebut diatas, perjuanagan Pangeran Trenggono tidak kalah oleh para pendahulunya.Adapun orang-orang Portugis di Malaka, dirasanaya sebagai ancaman dan bahaya.Untuk menggempur langsung dia belum sanggup.Namun demikian, dia berusaha perluasan daerah-daerah yang dikuasai oleh Portugis yang telah berhasil menguasai pula daerah pase di Sumatra Utara.Seorang ulam terkemuka dari pase Faittahilah yang sempat melarikan diri dari kepungan orang Portugis, di terima oleh Trenggono.Fattahilah pun dikawinkan dengan adiknya.Ternyata Fattahilah dapat menghalangi kemajuan orang-orang Portugis dengan merebut kunci-kunci perdagangan Kerajaan Pejajaran di Jawa Barat yang belum masuk Islam, yaitu Banten dan Cirebon.Sementara itu, Trenggono sendiri berhasil menaklukan Mataram dipedalaman Jawa Tengah dan juga Singasari Jawa Timur bagian selatan.Pasuruan dan Panukuan dapat bertahan, sedangkan Blambangan menjadi bagian Kerajaan Bali yang tetap Hindu.Dalam usahanya untuk menyerang Pasuruan pada tahun 1546, Trenggono Wafat.Dengan wafatnya Sultan Trenggono, timbulah pertengkaran yang maha hebat di Demak tentang siapa yang menggantikannya.

Setelah Sultan Trenggono wafat muncul kekacauan dan pertempuran antara para calon pengganti Raja.Konon, ibukota Demak pun hancur karenanya.Para calon pengganti raja yang bertikai itu adalah anak Trenggono, Sunan Prawoto dan Arya Penangsang anak dari Pangeran Sekar Ing Seda Lepen, adik tiri sultan trenggono yang dibunuh oleh Sunan Prawoto ketika membantu ayahnya merebut tahta Demak. Arya penangsang dengan dukungan dari gurunya Sunan Kudus untuk merebut takhta Demak, mengirim anak buahnya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya.

Pada tahun 1549 menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto.Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen.Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni. Menurut Babad Tanah Jawi, pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawoto. Sunan mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Seda Lepen.Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni Rangkud setuju. Ia lalu menikam dada Sunan Prawoto yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan sedang berlindung di balik punggungnya. Akibatnya ia pun tewas pula. Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawoto marah dan sempat membunuh Rangkud dengan sisa-sisa tenaganya.

Arya Penangsang juga membunuh adipati Jepara yang sangat besar pengaruhnya, istri adipati Jepara, Ratu Kalinyamat mengangakat senjata dan dibantu oleh adipati yang lain untuk melawan Arya Penangsang. Salah satunya adalah Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ), menantu Sultan Trenggono yang berkuasa di Pajang ( Boyolali ). Akhirnya, Joko Tingkir dapat membuuh Arya Penangsang.Pada tahun 1586, Keraton Demak pun dipindah ke Pajang.

Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit.Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks-Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah bahwa cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.

        5. Peninggalan Kerajaan Demak

  1. Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak yang terletak di tengah-tengah kota Demak, Secara geografis masjid agung Demak berada di desa Kauman, kecamatan Demak kota, kabupaten Demak Kota, Jawa Tengah. Secara astronomis, kabupaten Demak sendiri terletak antara 110°2758″ – 110°4847″ BT dan 6°4326″ – 7°0943″ LS. Kompleks masjid Agung Demak berdiri di lahan seluas 1,5 ha yang dipisahkan oleh pagar keliling dari tembok. Di depan masjid berhadapan alun-alun kota Demak dipisahkan oleh jalan Sultan Patah oleh jalan Semarang-Demak. Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak.Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia.Wujudnya megah, anggun, dan indah.Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Oleh masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin dikenal dengan nama “Masjid Wali”, karena menurut cerita kuno sejarah Jawa, bahwa bangunan masjid tersebut didirikan oleh para Wali atau yang lebih dikenal dengan sebutan wali songo secara bersama-sama dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Masjid Agung Demak memiliki ukuran, bagian dalam 31 x 31 meter, bagian serambi 31 x 15 meter dan ketinggian Soko gurunya 19,54 meter dan bagian seperti lazimnya bangunan ditopang oleh empat tiang raksasa. Salah satu diantaranya tidak terbuat dari satu batang kayu utuh tetapi disusun dari beberapa potongan kayu jati kecil-kecil yang kemudian diikat menjadi satu dan dibentuk seperti yang lainnya. Tiang inilah yang dikenal dengan nama “ Soko Tatal”. Dikisahkan dalam legenda bahwa Soko Tatal tersebut adalah sumbangan Sunan Kalijaga. Rupanya soko (tiang) itu disusun dari potongan-potongan kayu balok yang tersisa dari pekerjaan wali-wali lainnya berhubung pada malam itu Sunan Kalijaga datang terlambat, oleh karenanya ia tidak dapat menghasilkan suatu pekerjaan yang utuh. Dalam cerita rakyat selanjutnya menyatakan bahwa Sunan Kalijaga ternyata mempunyai kedudukan penting dalam ikut mendirikan masjid Demak itu, karena dialah yang berjasa dalam membetulkan arah kiblat masjid (Mengarah ke Ka’bah di Masjidil Haram Mekkah)

Hingga saat sekarang Masjid Agung Demak itu menjadi pusat perhatian umat Islam dan dianggap sebagai masjid suci bahkan ada sementara orang yang beranggapan pula bahwa mengunjungi Masjid Demak dan menziarahi orang-orang suci yang dimakamkan di kompleks Masjid dapat disamakan dengan pahala naik haji ke Mekkah, meskipun anggapan tersebut sampai sekarang belum ditemukan landasan keagamaannya.

Berdasarkan cerita-cerita rakyat yang masih hidup bahwa bagi umat islam Masjid Demak mempunyai nilai penting di alam pikiran orang Islam (Jawa) sampai sekarang berdasarkan kenyataan perkembangan sejarah, Masjid Demak telah menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa. Khuusnya di Jawa Tengah. Menurut tutur rakyat bahwa Demak yang kemudian menjadi ibu kota telah didirikan sekitar pertengahan abad ke 15 dengan cepat telah menjadi pusat perdagangan dan pusat lalu lintas laut terutama.

Menurut tutur rakyat sebagaimana juga disebutkan dalam hikayat Hasanuddin (Banten) menyatakan bahwa Masjid Agung Demak yang menjadi pusat kegiatan Islam di Jawa Tengah, maka orang pertama yang menjadi imam shalat di masjid itu konon ialah Pangeran Bonang putra pangeran Rahmat dari Ngampel, kemudian dalam kurun tertentu digantikan oleh anaknya yang bernama Makdum Sampang terus digantikan oleh Kyai Pambayun, lalu digantikan oleh penghulu Rahmatullah dan akhirnya digantikan oleh Pangeran Kudus dari ngudung alias Sunan Kudus.

Tentang didirikannya Masjid Agung Demak ini ada beberapa pendapat yang didasarkan atas Condrosengkolo yang terdapat di dalam Masjid, yaitu:

  1. Pada hari Kamis Kliwon, malam Jum’at Legi bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijjah tahun Jawa 1428 (1501 M) dengan dasar sebuah tulisan dalam bahasa Jawa di atas pintu muka, bunyinya sebagai berikut:

“HADEGIPUN MASJID YASANIPUN PARA WALI, NALIKO TANGGAL 1 DZULHIJJAH TAHUN 1428”

  1. Berdasarkan atas gambar Bulus yang terdapat di Mihrab yang ditafsirkan sebagai berikut:
  • Kepala       :1
  • Kaki          :4
  • Badan        :0
  • Ekor          :1

Jadi :1401 Th. Soko atau Th. 1479 M atau dengan “Sarira Sunyi Kiblating Gusti” yang apabila diartikan:

  • Sariro         :1
  • Sunyi         :0
  • Kiblat        :4
  • Gusti         :1
  1. Didasarkan atas Condrosengkolo yang terdapat pada pintu Bledek/ Petir sebagai berikut: “NOGO SARIRO WANI” (NOGO SARIRO KATON WANI) yang diartikan sebagai Th. Soko 1399 atau Th. 1467 M. Namun ada sumber lain mengatakan pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini “Condro Sengkolo” nya berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
  2. Dalam Babad Demak tulisan Atmodarminto, menyatakan Masjid Agung Demak didirikan pada Th. 1399 Th. Soko atau Th. 1477 M, didasarkan atas Condrosengkolo: “LAWANG TERUS GUNANING JANMI”

Kenyataan menunjukkan bahwa Masjid Agung Demak yang terlihat anggun dan antik disertai kewibawaan yang dimiliki dengan gaya arsitekturnya bercorak campuran antara corak kuno dan modern menurut tutur rakyat telah mengalami beberapa perbaikan (Restorasi), yaitu:

Pertama: berdasar atas prasasti yang ada di depan Masjid berbunyi: “Asri Katon Gapuraning Kamulyan” Tgl. 21 Juli 1928 M. Pada Zaman pemerintahan Bupati Demak R.Tumenggung Haryo Sastro Hadiwijaya.

Kedua: Berdasar prasasti di pintu depan yang berbunyi “Lawang Panoto Gono Suci/Broto Ngotopo Sidik Waskito” Th.1377 H.

Ketiga: Berdasar prasasti yang terdapat di depan Masjid yang berbunyi: “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Purna Pamugaran Masjid Agung Demak” yang diresmikan dan ditandatangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto pada tanggal 21 Maret 1987.

  1. Pintu Bledeg

Pada pintu tengah Masjid Agung Demak terdapat gambar dua naga besar yang oleh legenda dan cerita rakyat sampai sekarang bahwa pintu itulah yang dinamai “Pintu bledeg” atau pintu petir, konon adalah ciptaan Kyai Ageng Selo (Makamnya di Selo,±5 km dari kota Purwodadi menuju arah kota Blora). Pintu tersebut sudah tidak dipasang sedangkan yang masih ada merupakan duplikat, aslinya disimpan dimuseum Masjid Agung Demak (sebelah utara Masjid)

Menurut tutur rakyat menyatakan bahwa pada suatu ketika Kyai Ageng Selo telah menangkap kilat petir yang berada di ladang, lalu ia membawa kilat itu ke Masjid Demak atau kepada Sultan Demak. Kilat tersebut kemudian di kurung untuk beberapa waktu dan suatu saat dapat meloloskan diri.

  1. Serambi Majapahit

Salah satu bagian bangunan Masjid Agung Demak yang masih ada sampai sekarang dan terlihat anggun, antik dan indah serta mempunyai sejarah yang sangat tinggi adalah “Serambi Majapahit’ yang sekaligus di jadikan serambi Masjid Agung Demak itu, menurut legenda dan cerita rakyat menyebutkan, bahwa konon setelah Majapahit jatuh ke dalam kekuasaan Demak (Th. 1518 M), maka Kraton Majapahit kondisinya menjadi terlantar, tidak terawat ada kemungkinan karena sebelum Majapahit jatuh ke tangan Demak, situasinya di sana selalu dilanda perebutan kekuasaan (mulai Gilindrawardana sampai pada masa Prabu Udara). Sehingga para penguasanya tidak sempat merawat secara baik. Itulah yang mendorong Patih Unus memindahkan beberapa pusaka penting Majapahit ke Demak termasuk delapan tiang pendopo yang kemudian di tempatkan di Serambi Masjid Agung Demak dan masih dapat dilihat sampai sekarang.

Sumber lain mengatakan ini adalah Soko Majapahit , tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid yang merupakan benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Pattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagah wangi Bintoro Demak.

 

  1. Benda-benda Peninggalan lainnya

Disamping beberapa benda peninggalan yang bersejarah, terutama yang ada di dalam Masjid Agung Demak tersebut, ada pula benda-benda bersejarah lainnya, seperti:

  1. Mihrab atau tempat pengimaman

Didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti“Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.

        2. Dampar Kencana dan wadah/tempatnya

Benda Arkeologi ini merupakan peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Pattah Sultan Demak I dari ayahanda Prabu Brawijaya ke V Raden Kertabumi. Semenjak tahta Kasultanan Demak dipimpin Raden Trenggono 1521 – 1560 M, secara universal wilayah Nusantara menyatu dan masyhur, seolah mengulang kejayaan Patih Gajah Mada.

         3. Pawestren

Bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jamaah wanita ini dinamakan Pawestren, jumlah tiang penyangga 8 buah dimana 4 batang tiang utama ditopang belandar balok susun tiga yang diukir motif Majapahit. Luas lantai yang bermanfaat untuk sholat membujur kiblat berukuran 15 x 7,30 m. bila dilihat dari bentuk motif pada Maksurah tahun 1866 M Pawestren mungkin dibuat pada jamannya K. R. M. A. Arya Purbaningrat.

         4. Surya Majapahit

Merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit.Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit.Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.

          5. Maksurah

Merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki nilaiestetika unik dan indah.Bangunan kayu berukir dinamakan Maksurah atau Kholawat yaitu tempat untuk Mujahadah Adipati jaman dulu.Artefak bangunan berukir peninggalan masa lalu ini memiliki nilai dan bangunan estetika yang unik dan indah, sehingga relatif mendoinasi keindahan di ruang dalam masjid.Maksurah ini dipergunakan penguasa dakam menunaikan sholat dan Munajat untuk memperoleh barokah, rahmat dan hidayah Allah SWT.Dilluar maupun di dalam artefak terdapat tulisan berukir dengan bahasa dan huruf Arab yang intinya memuliakan Keesaaan Tuhan. Prasasti di dalam aqsuro menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M yang saat itu Adipati Demak dijabat K.R.M.A. Aryo Prubaningrat.

Selain peninggalan tersebut terdapat: Hiasan-hiasan dinding berupa piring-piring yang bermotif Tiongkok, oleh cerita rakyat dikatakan bahwa piring-piring tersebut merupakan sumbangan dari putri Cempa yang berjumlah 65 buah dan ditempelkan di serambi Masjid dan di sekitar Mihrab. Ada 3 buah (tiga buah) Guci (Gentong besar), beberapa tahun lalu benda-benda ini, sebuah berada di dekat makam dan yang lain di kolam dekat Masjid. Sekarang benda atau guci-guci itu dikumpulkan di dalam sebuah bangunan sederhana yang bertuliskan “Museum” berada di sebelah utara Masjid, di sebelah utara jalan menuju makam Raden Patah. Selain itu ada pula 2 buah lukisan marmer yang dipasang di atas pintu masuk sebelah dalam. Juga masih tersimpan rapi sebuah Bedug dan kentongan yang dibuat oleh Walisongo dan sebuah Maket Masjid Agung Demak yang dibuat pada Th. 1845 M dan benda-benda lainnya dapat dilihat di dalam Museum Masjid Agung Demak.

Bedhugdan Kenthongan, dua benda ini merupakan pasangan yang serasi. Kedua benda ini merupakan hasil ciptaan Sunan Kalijaga, yang digunakan untuk memberi tahu yang belum mengetahui arti panggilan adzan. Makna filosofis yang terkandung dari suara bedhug dan suara kenthongan adalah dheng … dheng … dheng …, berarti sedheng artinya masih cukup untuk menampung jamaah yang akan sholat. Sedangkan suara kenthongan thong … thong … thong … mengandung maksud bahwa mushola/masjid masih kothong (kosong atau belum berisi), dilanjutkan dengan adzan yang memerintah agar Umat Islam segera melakukan sholat berjamaah. Kedua alat ini merupakan alat yang tidak asing bagi masyarakat. Ditinjau dari seni budaya alat itu disamping sebagai alat panggilan sholat, juga berfungsi sebagai seni atau alat komunikasi secara tradisional, bahkan sampai saat ini kedua alat itu masih digunakan sebagai pelengkap pada masjid-masjid. Bedhug dan kenthongan yang asli buatan Sunan Kalijaga masih terawat baik di Museum Masjid Agung Demak.

           6. Situs Kolam Wudlu.

Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu.Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi.

Demikian beberapa peninggalan Sejarah Kerajaan Islam pertama di Demak yang mempunyai nilai tinggi, untuk itu penting sekali benda-benda tersebut selalu dijaga dan dirawat dengan baik agar tetap lestari sesuai bentuk dan corak keasliannya.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultananIslam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya. Kesultanan Demak tidak berumur panjang dan segera mengalami kemunduran karena terjadi perebutan kekuasaan di antara kerabat kerajaan.Pada tahun 1568, kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh Jaka Tingkir.Salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak, yang pada masa itu masih dapat dilayari dari laut dan dinamakan Bintara, saat ini telah menjadi kotaDemak di Jawa Tengah. Pada masa sultan ke-4 ibukota dipindahkan ke Prawata (dibaca “Prawoto”).

Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks-Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah bahwa cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.


DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Amar, Imron. 1996.Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak. Kudus: Menara Kudus

Chandra Andy. 2012. Kerajaan Demak, dalam http://sejarah-andychand.blogspot.com/2012/05/kerajaan-demak.html. Diakses pada 10 Oktober 2013

Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak

De Graaf H.J, TH. Pigeaud. 1985. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

Soekmono.1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

http://globalw4r3.blogspot.com/2012/01/peninggalan-kerajaan-demak.html (diunduh pada tanggal 2 November 2013)

http://www.demakkab.go.id/index.php/pariwisata/tempat-wisata/107-masjid-agung-demak diakses tanggal 13/10/2013(diunduh pada tanggal 4 November 2013)

http://arsitekturlokalunsiq.blogspot.com/2012/04/kajian-arsitektur-islam-masjid-agung.html(diunduh pada tanggal 2 November 2013)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s